Kategori
Surat

Surat Untuk Ayah (Letter-12)

Hallo Pa,

Naha kabar nassiam? Sehat do nassiam kan? Hanami pe sehat do haganup sonai homa Pahoppu ni nassiam.

Sebenarnya merasa lucu menulis surat dalam bahasa Indonesia karena kita biasa pakai Bahasa Simalungun. Tapi untuk kali ini tak apalah.

Di surat ini, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi Bapak yang sangat baik sepanjang aku bisa mengingat. Dari aku kecil sampai sudah berkeluarga sampai saat ini.

Bapak yang sangat perhatian kepada semua anak-anaknya. Bapak yang banyak mengajarkan semua tentang kehidupan ini. Bahkan masih jelas dalam ingatan ini, bagaimana Bapak mengajari aku menyetrika pakai setrika arang. Saat itu aku masih kelas 1 SD tapi sudah bisa menyetrika baju sendiri, walaupun pernah membuat bolong berbentuk setrika di baju seragamku tapi Bapak tidak marah karena itu.

Bapak yang tak pernah bosan dan selalu sabar mengajari aku mengerjakan PR Matematika, walaupun aku tetap tidak memberi hati namun tak bosan-bosannya Bapak mengajari.

Jujur, aku salut dan bangga memiliki seorang Bapak seperti Bapak. Walaupun kita tinggal di kampung tetapi apa yang Bapak lakukan membuat kami si anak kampung tidak terkungkung dengan suasana kampung. Bapak seorang petani tetapi bagiku apa yang Bapak lakukan bahkan melebihi apa yang dilakukan seorang guru sekalipun yang ada di kampung kita.

Masih jelas dalam ingatan ini, bagaimana aku sejak kelas 1 SD sudah Bapak belikan majalah Bobo, hal yang sangat langka untuk ukuran kampung. Bukan hanya Bobo, tetapi majalah Kawanku, Ananda dan Donal Bebek juga rutin Bapak beli untuk kami beserta Trubus untuk Bapak. Hal yang sangat jarang dilakukan orangtua dari kampung. Bahkan setelah bergaul dengan mereka yang tinggal di kota, melalui cerita mereka aku mengetahui bahwa orangtua yang di kota saja jarang bahkan ada yang tidak pernah melakukan itu.

Setiap liburan, Bapak pasti membawa kami jalan-jalan ke kota, sekedar ke taman bunga atau taman hewan yang ada di Pematangsiantar. Aku juga masih ingat dengan jelas sewaktu masih kelas 3 SD, ada sirkus di Pematangsiantar. Bapak juga membawa kami ramai-ramai menonton sirkus. Mungkin bagi Bapak itu biasa tapi bagiku itu luar biasa dan menghadirkan suatu kenangan tak terlupakan.

Baik, hebat, pintar itulah penilaianku secara pribadi. Kami 4 bersaudara begitu segan dan hormat kepada Bapak. Bapak tidak keras bahkan jarang marah tetapi kami sangat segan dan tidak pernah melawan apa kata Bapak. Kalau Bapak sudah marah berarti sudah hebat kesalahan yang dilakukan. Aku sendiri mengingat hanya 2 kali pernah kena marah Bapak. Sekali, kelas 1 SD karena sepulang sekolah pergi ke rumah teman sampai sore tanpa permisi. Semua sudah kebingungan mencari tapi tidak ketemu. Saat itu Bapak marah besar tetapi aku tahu itu adalah karena begitu besar sayang Bapak kepadaku karena berpikir telah terjadi sesuatu.

Kedua kali, aku kena marah saat sudah kelas 2 SMP. Kena marah karena fitnah tak jelas dari orang lain, itu kalau menurutku. Tapi itupun aku maklumi sebagai rasa sayang dan cemas kalau takut terjadi hal yang tidak diinginkan.

Bagiku, Bapak adalah sosok yang layak menjadi panutan. Bukan hanya kepada kami Bapak baik tetapi kepada sanak keluarga dan masyarakat. Bapak juga begitu sabar dan tidak mudah terpancing emosi. Tapi Bapak juga tegas pada saat yang tepat.

Sekarang usia Bapak sudah mendekati 75 tahun, tetapi aku tetap berdoa kiranya Tuhan memberikan kesehatan dan kekuatan serta umur panjang bahkan melewati 85 tahun kalau boleh meminta. Supaya tetap dapat menasehati kami anak-anak Bapak.

Sampai di sini dululah surat ini Pa, sehat-sehatlah kita dan selalu diberkati Tuhan.

Syalom.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 260219

ps.
Tulisan ini sebagai tulisan ke 12 dalam rangka a Letter challenge dengan tema surat kepada ayah.

Iklan