Kategori
Anak celoteh anak Tentang anakku

Sean Protes

“Mama, pokoknya Adek mau protes.”

Kategori
celoteh anak

Sean Ingin Makan Itu

Hari ini perayaan Idul Adha bagi umat Muslim. Takbir berkumandang dari mesjid komplek sejak kemarin malam dan pagi pun sudah berkumandang sejak pukul 4 subuh.

Kategori
celoteh anak Daily Stories

Musim Nyamuk

Beberapa hari ini, nyamuk sepertinya merajalela. Tidak siang tidak malam, nyamuk lebih banyak dari biasanya. Hal ini pastinya menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri untukku.

Kategori
celoteh anak

Hanya Jawaban Sederhana

“Mama, durian itu enak kan?”

“Iya.”

Kategori
Anak

Sean Si Nirmala

Kalau Sachio terobsesi dengan keluarga Bobo sehingga sudah mengarang nama anaknya kelak dengan nama-nama keluarga Bobo tetapi tidak demikian halnya dengan Sean adiknya yang berusia 3,5 tahun.

Sean memang belum bisa membaca tetapi Sarah si kakak sering membacakan cerita-cerita yang ada di majalah Bobo kepada bocah tersebut. Terkadang bila sedang senggang, aku juga mendownload dongeng dan cerita Bobo yang ada di chanel YouTube Bobo sehingga mereka bisa menonton secara offline.

Dongeng kesukaan Sean adalah Negeri Dongeng. Tokoh favoritnya adalah Nirmala. Dia selalu mengatakan bahwa dia adalah Nirmala. Sean juga hapal dengan semua tokoh dalam dongeng tersebut dan menjuluki kami dengan nama-nama dari para tokoh. Papa adalah Pak Tobi sang tabib, Mama adalah Ratu Bidadari, Sachio adalah Oki, Sarah adalah Dayang Kupai dan Sonia adalah Dayang Bulbul.

Tapi bila Sean sedang kesal dengan salah seorang dari kami maka kami semua akan berubah nama menjadi Pipiot, si penyihir jahat.

Tak jarang juga Sean bermain sendiri dan berlakon seolah-olah ada dalam negeri dongeng dan membuat dialog demi dialog sesuai imajinasinya. Benar-benar membuat gemas bagi kami yang mendengar.

Sean

-Gassmom-
Pematangsiantar, 100619

Iklan

Kategori
celoteh anak Tentang anakku

“Jangan Kasih Tahu Mama”

“Ma, memang nggak boleh minum es batu ya?” tanya Sean si bocah 3 tahun kepada Mama

“Iya.”

“Tapi kemarin Sean dan Kak Sarah minum es batu.”

“O, ya?”

“Tapi Kak Sarah bilang jangan kasih tahu Mama.”

“Jadi kenapa Sean kasih tahu sama Mama?”

“Karena kan tidak boleh bohong.”

Hmm, dasar bocah.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 230319

Kategori
celoteh anak Cerita Anak Cerita Mini

“Bou, Di Sini Ada Islam?”

Azan magrib sudah berkumandang dari mesjid ketika Sean tiba di rumah Bou.

Karena kakaknya yang telah lebih dahulu tiba ternyata sedang asyik nonton maka Sean pun mencari kesibukan sendiri.

Seperti biasa bila sampai di suatu tempat, bocah berusia 3 tahun itupun memantau keadaan sekelilingnya. Semua diperhatikan. Ketika melihat salah satu pintu kamar setengah terbuka, ia pun mengintip dari pintu tersebut. Sejenak Sean terdiam melihat pemandangan yang dia lihat. Kemudian bergegas menemui Bou di dapur.

Bou, di sini ada Islam?” dengan polos Sean bertanya kepada Bou.

“Kenapa Sean? Bou Islam.” kata Bou.

“Sssttt, jangan keras-keras Bou. Bukan Bou. Lihatlah.” kata Sean sambil mengarahkan Bou menuju kamar dengan pintu setengah terbuka.

“Ooo, itu Kak Lia. Dia sedang sholat.” ujar Bou setelah melihat kedalam kamar. Ternyata dalam kamar ada Kak Lia, sepupu Sean yang baru datang dari Kalimantan. Kak Lia sedang sholat.

“Ooo, Kak Lia Islam …” kata Sean sambil manggut-manggut.

“Iya lho Sean. Bou juga Islam. Sean Islam juga?” tanya Bou.

“Nggak, Sean Kristen.” jawab Sean.

“Ooo …”

“Sst, jangan cerita-cerita lagi kita Bou. Kalau ada yang sholat kita tidak boleh ribut.” ujar Sean dengan sikap sok bijak.

Bou pun manggut-manggut, tetapi tetap tak bisa menahan geli melihat cara dan sikap Sean.

Malam pun menjelang dan ada beberapa saudara yang datang. Setiap ada yang datang tak bosan-bosannya Bou bercerita tentang Sean dan kata-katanya. Menurut Bou, dia benar-benar tak habis pikir bagaimana anak seumur Sean bisa bersikap begitu.

Gassmom-
Pematangsiantar, 220219

Ps.
Bou, amboru, polu: Panggilan kepada saudara perempuan ayah (Bahasa Batak Simalungun).

Kategori
celoteh anak Cerita Mini Tentang anakku

Siapa Yang Mengajari?

“Hmm, koq gitu sih Sean? Anak siapa sih ini? Bisa-bisanya mengganggu terus?” ujarku kepada Sean.

“Hmm, anak siapa ya? Anak anjing … Ha ha ha …” dan si bocah 3 tahun itu terbahak-bahak sambil menari-nari.

“Waduh, Sean. Kenapa bilang begitu? Siapa yang mengajari seperti itu? Pantang ya bilang seperti itu. Sean kan anak mama. Kalau Sean bilang Sean anak anjing berarti kita anjing …” ujarku sedikit gusar karena mendapat jawaban seperti itu.

“Iya Ma, nggak boleh ya Ma? Pantang ya?” ujarnya lagi dan kuiyakan.

***

Keesokan harinya.

“Ma, bulu hidung ada ya?” tanya Sean.

“Ada.”

“Bulu hidung ada, bulu mata ada, bulu ketek ada …, bulu apa lagi Ma?”

“Bulu kaki.”

“Terus, apa lagi?”

“Bulu ayam.”

“Apa lagi?”

“Bulu kucing, bulu anjing.”

“Haaa, mama kenapa bilang anjing? Siapa yang mengajari mama bilang gitu?”

-Gassmom-
Pematangsiantar, 140219

Kategori
Anak

Ketika Monyet, Cacing dan Burung Berkumpul di Gereja

“Anak Sekolah Minggu yang Tuhan cinta, sekarang siapa yang ingin bernyanyi?” tanya Bang Jhon, guru sekolah Minggu yang bertugas hari ini.

Sean yang duduk berdampingan dengan Sonia kakaknya, mengangkat tangan seperti ingin tunjuk tangan namun seolah ragu. Kemudian dia menarik tangan Sonia dan berbisik, “Kak, Sean mau nyanyi.”

“Benar Sean mau nyanyi?” tanya Sonia sambil memandang tak yakin kepada Sean yang masih berusia 3 tahun. “Nyanyi lagu apa?”

“Anak monyet.”

“Betul ya? Biar kakak bilang sama Bang Jhon.”

Melihat Sean mengangguk dengan yakin, Sonia pun memanggil Bang Jhon.

“Bang, adekku Sean mau nyanyi.” ujar Sonia kepada Bang Jhon.

“Oh, ya? Sean mau nyanyi lagu apa? tanya Bang Jhon sambil menghampiri Sean.

“Anak Monyet.” jawab Sean.

“Oke, kalau begitu kita dengarkan dulu Adek kita Sean akan menyanyikan lagu ‘anak monyet’, diharap yang lain jangan ribut.” ujar Bang Jhon.

Sean pun melangkah maju dan mulai bernyanyi.

Anak monyet dalam gereja …”

Ha ha ha…
Anak-anak lain pun tertawa terbahak- bahak.

Anak cacing dalam gereja …”

Ha ha ha…
Ruangan sekolah Minggu pun semakin riuh dipenuhi tawa anak-anak lain. Bang Jhon memberi isyarat supaya anak-anak tenang kembali.

Anak burung di dalam gereja …”

Ha ha ha …
Tawa kembali meledak. Anak-anak tak perduli lagi dengan isyarat Bang Jhon menyuruh untuk diam.

“Sudah selesai Sean?” tanya Bang Jhon melihat Sean sudah diam dengan wajah sumringah

“Sudah Bang.”

“Oke, terima kasih Sean telah bernyanyi. Anak- anak lain juga harus berani seperti Sean. Sean yang masih kecil saja berani, harusnya kalian lebih berani lagi.” ujar Bang Jhon. “Nah, Sean sudah bisa kembali ke tempat duduknya supaya kita menutup kebaktian kita dengan doa.”

Sambil senyum-senyum karena Bang Jhon memuji dia, Sean pun kembali ke tempat duduknya diiring tawa dan bisik- bisik anak lain. Hal itu membuatnya semakin senang karena merasa sudah membuat orang lain senang tanpa Sean tahu apa yang membuat anak-anak Sekolah Minggu yang usianya jauh diatasnya itu tertawa terbahak-bahak.

***

note.
Lagu ‘Anak Monyet’ adalah salah satu lagu anak Sekolah Minggu yang sering dinyanyikan di gereja. Saking sering dinyanyikan sampai Sean yang berusia 3 tahun pun hapal. Tapi entah grogi atau bagaimana, di depan anak sekolah Minggu yang lain dia menyanyikannya dengan kata berbeda sehingga anak lain merasa lucu sampai tertawa terbahak-bahak.

Lirik lagu yang sebenarnya adalah:

Anak Monyet’

Anak monyet di atas pohon
Anak cacing di dalam tanah
Anak burung di dalam sangkar
Anak Tuhan di dalam gereja

Panjang muka namanya kuda
Panjang hidung namanya gajah
Panjang tangan itu pencuri
Panjang sabar itu anak Tuhan

-Gassmom-
Pematangsiantar, 250119

Sebenarnya tema ini sudah pernah kutulis dan kuunggah di platform lain. Tapi berhubung platform tersebut sudah tidak aktif, jadi aku tulis ulang dengan sedikit perubahan.

Kategori
celoteh anak Cerita Anak Cerita Mini Cermin

Hantunya Aku (cerita mini)

Aku benar-benar kaget bercampur panik. Tadi jelas aku meninggalkan 2 jarum dan menusukkan jarum tersebut ke kain aida yang sedang kusulam. Namun begitu kembali dari dapur kedua jarum itu sudah lenyap.

Bukan apa-apa, bukan karena merasa sayang kehilangan jarum yang membuat pekerjaanku menjadi tertunda. Yang membuatku panik adalah membayangkan apa yang akan terjadi bila ternyata jarum itu berada di tempat yang salah. Misalnya berada di sofa dan salah seorang anak duduk di sana dan … waduh, pokoknya bayangan buruk seketika berkelebat di pikiran dan menambah kadar kepanikan.

Akupun mencoba bertanya kepada Sachio si bocah 5 tahun dan Sean yang berusia 3 tahun yang sedang asyik bermain tak jauh dari tempat aku meninggalkan sulaman tadi. Tapi mereka berdua kompak mengatakan tidak tahu.

Akhirnya kucoba mencari lagi dan akhirnya ketemu dalam box tempat benang dan berada di bagian bawah.

Lega karena sudah menemukan jarum yang hilang tersebut, akupun melanjutkan lagi menyulam.

Sambil asyik menusukkan jarum, aku berkata kepada kedua anak tersebut, ” Jarumnya sudah ketemu. Tapi Mama heran memikirkan siapa yang sudah memegang sulaman Mama dan mengutak-atik jarum itu. Karena kalian bilang bukan kalian, jadi Mama rasa hantu yang sudah memegang ini tadi.”

“Hantu Ma?” tanya Sean.

“Iya, hantu. Siapa lagi kalau bukan hantu. Kalian bilang tak ada pegang, berarti hantu itu.” jawabku lagi.

“Hantu? ” tanya Sachio sambil menatapku.

“Iya, hantu.” jawabku lagi dengan serius.

“Hiii, takutlah Ma.” ujar Sachio sambil mendekat.

“Jangan takut Bang. Masak Abang takut sama hantu.” tukas Sean sambil tetap asyik dengan mainannya.

“Hantunya itu aku.”sambung Sean lagi dengan wajah polos tak berdosa.

“Karena, yang ambil jarum itu Sean.” sambungnya lagi sambil tertawa ngakak dibuat-buat seperti biasa kalau sudah ketahuan bersalah.

“Hmmm, berarti Sean yang pegang barang Mama. Kenapa tadi bilang tak tahu?” tanyaku nyaris marah.

“Iyalah.” seperti biasa kalau sudah tak bisa berkelit Sean hanya menjawab singkat sambil tak berpaling dari mainannya.

Dan, tinggal si mama yang terdiam dan tak tahu lagi mau ngomong apa. Mau marah juga percuma bahkan hanya membuat lelah tak berarti.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 120119