Kategori
KB kontrasepsi

Metode Operasi Pria (MOP), Pilihan Kontrasepsi Pria

Tak jarang para wanita mengeluh karena sepertinya segala beban untuk reproduksi terasa memberatkan wanita. Mungkin hanya sekedar guyonan dikala senggang tapi sering tercetus. Wanita harus menjalani menstruasi setiap bulannya, harus hamil, melahirkan dan wanita juga yang harus dipasang atau menggunakan alat kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan.

Tetapi sebenarnya bukan hanya wanita yang berperan dalam pemakaian kontrasepsi karena kontrasepsi pria juga ada. Yang paling populer adalah kondom tetapi banyak yang tidak suka karena dianggap merepotkan dan mengurangi kenikmatan.

Bagi pasangan yang tidak ingin menambah anak lagi biasanya akan memutuskan menggunakan kontrasepsi permanen ataupun jangka panjang. Kontrasepsi permanen ada yang untuk wanita yaitu Metode Operasi Wanita (MOW) dan ada juga untuk pria yaitu metode Operasi Pria (MOP). Saat ini sudah banyak yang mengetahui MOW dan sudah banyak yang melakukan termasuk aku sendiri sudah menjalani MOW berbarengan dengan operasi melahirkan anak bungsu kami.

Untuk MOP, sepertinya masih kurang familiar dan walaupun sudah diberi edukasi tetapi para pria masih susah atau bahkan tidak mau untuk memutuskan menjalani MOP tersebut. Walaupun ada juga yang termotivasi sendiri dan memutuskan sendiri karena rasa sayang kepada istri dan ingin berbagi beban untuk kepentingan rumahtangga.

Adapun MOP atau biasa disebut Vasektomi atau sterilisasi pria adalah metode kontrasepsi pria berupa tindakan medis untuk menghentikan kemampuan reproduksi pria dengan jalan melakukan pemotongan dan pengikatan saluran pengeluaran sperma (vas deferens) kanan dan kiri sehingga pengeluaran sperma terhambat dan pembuahan tidak terjadi. Tindakan tersebut menyebabkan cairan mani yang keluar tidak lagi mengandung sel sperma.

Prosedur ini sangat efektif hingga 98%. Prosedur kerjanya juga ringan dan cepat hanya 15 menit dikerjakan oleh dokter terlatih dengan menggunakan bius lokal tanpa pisau bedah dan tanpa penjahitan.

Selain aman, sederhana, mudah dan cepat tindakan medis yang dilakukan, MOP ini juga tidak mempengaruhi kejantanan ataupun kemampuan seksual pria. Hal ini yang paling banyak ditakutkan dan menjadi pertanyaan para kaum Adam bila kita bercerita atau sharing tentang MOP.

Vasektomi tidak menyebabkan laki-laki menjadi impoten sebab saraf-saraf dan pembuluh darah yang berperan dalam proses terjadinya ereksi berada di batang penis sedangkan tindakan vasektomi hanya dilakukan di sekitar buah zakar dan jauh dari persarafan untuk ereksi. Vasektomi juga tidak menurunkan libido karena buah zakar yang menghasilkan hormon testosteron (pemberi sifat kejantanan dan libido) tetap berfungsi dengan baik.

Jadi, bagi suami yang sayang istri bolehlah memilih vasektomi menjadi cara kontrasepsi bagi keluarga.

Salam KB.

Dua anak cukup.

Gassmom-
Pematangsiantar, 200419

Pict. https://pin.it/ba535ojuzf74bt
Sumber Referensi: Pilihan Metode Kontrasepsi Bagi Masyarakat Umum, Perwakilan BKKBN ProvSU, 2018

Iklan
Kategori
Kampung KB KB

Transaksi Non Tunai Bagi Masyarakat

Akhirnya transaksi non tunai pun merambah ke masyarakat. Bila kemarin hanya instansi pemerintahan yang menerapkan transaksi non tunai tetapi pada tahun 2019 ini semua transaksi ke masyarakat pun sudah harus non tunai. Termasuk masyarakat kampung KB yang menerima uang transport untuk pertemuan setiap bulan.

Sehubungan dengan itu, maka pada pertemuan Pokja Kampung KB bulan ini (Maret 2019), Dinas DPPKB Kota Pematangsiantar mengundang Bank Sumut sebagai Bank Pembangunan Daerah untuk turun langsung ke lapangan membuka rekening masyarakat Kampung KB termasuk Kampung KB Bah Sorma sebagai Kampung KB yang ada di Kecamatan Siantar Sitalasari tempat tugas kami.

Awalnya kami mengira masyarakat mungkin akan merasa keberatan dengan kebijakan tersebut. Tetapi ternyata sama sekali tidak keberatan. Mereka bahkan sangat antusias membuka rekening tersebut.

Adapun syarat yang harus disiapkan masyarakat adalah fotocopy KTP dan uang Rp. 20.000,- beserta SK Pokja yang kami perbanyak untuk mereka.

Dari Kampung KB Bah Sorma ada 28 orang yang membuka rekening Bank Sumut karena kebetulan 2 orang sudah memiliki rekening sebelumnya.

Menurutku program non tunai kepada masyarakat ini bagus juga karena secara tidak langsung menumbuhkan keinginan untuk menabung bagi masyarakat. Terbukti banyak diantara mereka yang ingin menambah saldo tabungan selain uang yang ditransfer nantinya. Kami juga sebagai petugas KB memang memberi masukan juga kepada mereka bahwa adalah lebih bagus bila nanti uangnya ditransfer tidak langsung ditarik tetapi dikumpul saja dahulu, dianggap tabungan dan diambil pada saat lebaran.

Anggota Pokja Kampung KB Bah Sorma mengisi formulir buka Rekening Bank Sumut dipandu oleh petugas Bank Sumut.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 290319

Kategori
Cerita di angkot KB kontrasepsi

Ketika Suami Yang Ngidam

“Aku sudah tutup Bu. Terpaksa. Karena waktu hamil, suami ngidam parah banget.”

Sebelumnya aku tidak terlalu tertarik dengan perbincangan sesama ibu-ibu tersebut yang berada satu angkot denganku. Mereka melakukan konferensi ala emak-emak dan aku sibuk sendiri berselancar melalui handphone. Namun, mendengar penuturan ibu itu, aku agak tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.

Seorang ibu, masih muda dan cantik. Dia bersama sepasang anak laki-laki dan perempuan. Paling besar laki-laki sudah SD dan paling kecil kira-kira usia 3-4 tahun. Menurutnya sekarang dia berprofesi sebagai tenaga salon online. Menerima kostumer secara online dan bersedia dipanggil ke rumah. Dia tidak mau terikat lagi dengan suatu pekerjaan karena mau konsentrasi mengurus anak.

“Oh, ya? Emang suami ngidam sampai gimana?” tanyaku.

“Iya lho, suamiku itu … 2 kali aku hamil anakku ini dan 2 kali itu juga dia ngidam. Sampai tidak bisa bekerja. Terpaksa dalam keadaan hamil aku bekerja mencari uang karena kondisi suami begitu.” jawabnya.

” Muntah-muntah gitu ya?” ku tanya lagi.

“Muntah-muntah, mual, tidak bisa makan apapun dan lemas. Tidak bisa mencium bau apapun pasti mual dan muntah. Dia juga ingin makan ini dan itu dan hanya bisa makan yang dia inginkan itu. Bayangin saja, aku lagi hamil gendut terpaksa pergi mencari apa yang dia inginkan biar dia bisa makan. Aku juga terpaksa bekerja karena dia benar-benar lemas tak bisa ngapa-ngapain. Padahal aku gendut lho kalau hamil, berat badan selalu diatas 90 kg.” ujarnya sambil tertawa.

“Ha ha ha, ternyata benar ada ya suami yang ngidam sewaktu istri hamil.” ujarku sambil tertawa.

“Iya lho Bu dan suamiku itu buktinya. Makanya begitu lahir anak kedua ini kami memutuskan langsung KB, tutup langsung. Suami pun sudah menyerah jangan sampai terulang ketiga kali mengalami ngidam begitu. He he he…” jawabnya.

“Iyalah, lagipula sudah sepasang. Sudah lengkap.” ujarku.

Tak berapa lama ibu tersebut pun turun karena sudah sampai di rumahnya.

Gassmom-
Pematangsiantar, 150319

Kategori
KB kontrasepsi

Menolak KB Karena Tidak Sesuai Ajaran Agama

Ada yang menarik perhatianku sewaktu instansi kami melakukan pelayanan KB MOW pada Jumat 01 Maret 2019 lalu. Yaitu bahwa di antara para ibu calon akseptor ada salah seorang ibu yang memakai busana serba hitam lengkap dengan cadar.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan penampilan itu karena sehari-hari juga sering bertemu dengan wanita berpenampilan serupa. Namun yang membuatku agak tertarik adalah karena ibu tersebut merupakan seorang calon akseptor. Bukan cara kontrasepsi biasa tetapi cara permanen. Kalau melihat penampilan suami sepertinya juga masih muda, paling tinggi usia 40-an dan juga memakai busana khas pasangan untuk wanita bercadar. Sang suami menggendong bayi yang sepertinya masih berumur sekitar 2 bulan.

Sempat juga tergelitik dalam hati ingin bincang-bincang dengan pasangan tersebut. Namun ku urungkan niat karena takut timbul hal-hal yang tidak diinginkan dan lagipula aku sibuk menulis anamnese calon akseptor dari kecamatan kami.

Karena kesibukan, hal tersebut pun terlupakan. Namun dalam ruangan pemulihan pasca MOW, aku melihat mereka lagi. Karena aku juga mendampingi akseptor di sudut ruangan yang berbeda jadi aku hanya melihat dari jauh. Satu moment kebetulan si istri membuka cadar dan kebetulan menghadap ke arahku. Saat itu aku melihat sepertinya masih muda dan juga cantik. Kalau melihat paras rasanya usia 35 tahun pun belum ada.

Ada rasa salut melihat pasangan tersebut. Sepertinya masih muda namun sudah memutuskan kontrasepsi permanen. Salut juga melihat sang suami yang sepanjang proses selalu menggendong bayi mereka dengan sabar.

Selama ini kami sering bertemu dengan pasangan penganut paham serupa dengan anak lebih dari 4 dan usia anak sangat rapat. Bahkan sebagian belum bercadar hitam tapi sudah mengenakan busana serba tertutup. Tetapi menurut pengalaman kami selama ini, mereka tidak setuju untuk melakukan kontrasepsi karena (menurut mereka) tidak sesuai dengan ajaran yang mereka yakini.
Bahkan pernah juga sampai ada seorang istri yang nekad akan berbohong kepada suaminya ingin melakukan kontrasepsi implant ataupun susuk tetapi ternyata setelah dilakukan pemeriksaan fisik kami menemukan Tekanan Darah si ibu ternyata sangat tinggi sehingga tidak memungkinkan dipasang implant.

Kamipun menyarankan bagaimana kalau suami saja yang melakukan kontrasepsi. Sebagai tahap awal, diberikan kondom untuk suami. Tetapi si ibu menerima kondom dengan ogah-ogahan sambil berkata apakah memang tidak bisa diusahakan supaya dia saja yang dipasangkan alat kontrasepsi. Si ibu cerita kalau anaknya sudah 5 orang, dia juga sudah pernah mengalami stroke ringan dan dia benar-benar takut kalau hamil lagi. Ternyata menurut penuturan ibu tersebut sang suami tidak setuju dengan pemakaian alat kontrasepsi karena bertentangan dengan agama. Ketika ibu tersebut sudah pulang, salah seorang ibu yang tinggal kebetulan saudara ibu tersebut mengatakan kalau suami dari ibu tadi sangat taat kepada agama dan hal itulah yang membuat tidak setuju dengan alat kontrasepsi.

Yah, kita memang tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau hal itu berkaitan dengan keyakinan yang dia anut. Apalagi kalau kita berada di posisi keyakinan yang berbeda.

Tapi mengenai alat kontrasepsi secara pendapat Islam, aku pernah mendengarkan ceramah dari salah seorang ustad yang kebetulan menjadi narasumber dalam kegiatan kami. Kegiatan tersebut diadakan di daerah dimana semua penduduk adalah Muslim.

Pak Ustad tersebut mengutip sebuah ayat Al-Qur’an yaitu surat Al-Baqarah ayat 95 dimana referensi beliau memberikan ceramah dan ayat tersebut adalah berdasarkan buku Halal dan Haram Dalam Islam yang ditulis oleh Yusuf al-Qaradawi. Dimana pada kesempatan tersebut Pak Ustad tersebut membawa serta buku itu dan menunjukkan kepada yang hadir. Bahwa beliau memang tidak mengada-ada tetapi sudah ahli agama yang menuliskan.

Menurut Pak ustad bahwa dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa (sepertinya isi ayat tidak perlu kutuliskan di sini karena sesungguhnya aku hanya membahas tentang alat kontrasepsi) manusia diberi tawaran dan pilihan. Manusia sebagai Khalifah diberi hak memilih bagaimana menjalani kehidupan. Jadi berdasarkan pemahaman tersebut umat Muslim boleh melakukan/ memakai alat kontrasepsi Keluarga Berencana. Alasannya bukan takut banyak anak tetapi untuk apa banyak anak kalau ternyata kewalahan dalam mengurus.
Jadi intinya jangan membunuh diri sendiri dengan pilihan yang salah, jangan membuat susah diri sendiri dan jangan mempersulit diri sendiri.

Jadi kalau dari segi ekonomi kita tidak sanggup mengurus banyak anak, atau kita perduli dengan kesehatan ibu jadi sudah sewajarnya mengikuti program Keluarga Berencana dengan memilih salah satu alat kontrasepsi yang cocok untuk istri maupun suami.

Lebih kurang seperti itu penjelasan dari Pak Ustad tersebut yang bisa kutangkap dalam pemahamanku. Menemui kenyataan di lapangan dimana banyak yang menolak memakai alat kontrasepsi karena alasan haram jadi aku merasa tergerak menuliskan ini. Karena dalam praktek sehari-hari sebenarnya kami tidak berhak memberikan ceramah tentang itu namun tokoh agama yang berkompeten untuk itu.

Apabila ternyata tulisan ini menyalahi, tolong berikan komentar kritik dan saran. Karena aku juga menuliskan ini hanya berdasarkan apa yang kudengar dari ceramah Pak Ustad tersebut dan berdasarkan daya tangkapku sebagai manusia yang penuh keterbatasan.

Namun menurutku Pak Ustad Irwan yang memberikan ceramah tersebut sangat kompeten karena beliau selain ustad yang menyandang gelar S.Sos I dan bekerja di Departemen Agama dan sering diundang memberi ceramah dan doa dalam acara tingkat kota.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 150319

Kategori
KB kontrasepsi

Susuk KB (Implant) Berjalan Sampai ke Jantung?

Selalu ada cerita di balik kegiatan pelayanan KB. Begitu juga hari ini ketika kami melayani pemasangan KB Implant di Klinik Aisyiyah yang terletak di jl.Sisingamangaraja no.127 Pematangsiantar.

Seorang ibu muda berusia masih dibawah 30 tahun, ternyata sudah memiliki 4 anak dimana usia anak tertua ternyata masih 4 tahun. Aku sampai bertanya 2 kali untuk meyakinkan karena mendengar ibu itu bilang kalau anak yang dibawa bersama dia hari ini adalah anak tertua yang berusia 4 tahun. Tetapi memang benar adanya. Dan itu artinya, setiap tahun ibu tersebut melahirkan satu anak dan begitu selesai melahirkan sudah hamil lagi sebelum masa nifas selesai.

Miris mendengarnya.
Ternyata di zaman ini masih ada masyarakat yang belum terjangkau informasi. Padahal domisili mereka di kota yang walaupun masih kota kecil tapi menurutku Pematangsiantar sudah termasuk maju. Lagipula mereka tinggal bukan daerah paling pinggir tapi itulah kenyataan yang terjadi.

Dan semua terjadi karena kurang pengetahuan. Terbukti dari pertanyaan suami yang tercetus saat menandatangani informed consent untuk tindakan. Si suami menanyakan apakah nanti susuk yang dimasukkan itu tidak akan berjalan atau bahkan berjalan sampai ke jantung karena posisi lengan dekat ke jantung. Karena katanya dia pernah mendengar cerita tentang alat kontrasepsi Spiral (IUD) yang berjalan naik sampai ke jantung dan mengakibatkan sesak dan akhirnya meninggal.

Benar-benar butuh kesabaran ekstra untuk menjelaskan kepada sepasang suami istri tersebut sampai akhirnya mereka menandatangani persetujuan.

Untungnya Ibu Penyuluh KB kami sudah sangat berpengalaman dan beliau pun menjelaskan itu hanya mitos dan tak mungkin terjadi karena berada di organ yang berbeda. Dibarengi dengan berbagai ilustrasi untuk membuat si Suami yakin.

Menurut Ibu Penyuluh KB yang memberikan penyuluhan kepada mereka, kemarin juga memang butuh perjuangan untuk membuat si istri menyetujui untuk pemasangan alat kontrasepsi. Pagi tadi kader pun terpaksa turun tangan menjemput ke rumah mereka.

Kesannya memang seperti pemaksaan. Tapi sebenarnya itu adalah untuk kebaikan dan kesejahteraan keluarga mereka.

Semoga pelayanan hari ini memberi manfaat untuk keluarga para akseptor baru kami tersebut. Demi terwujudnya masyarakat Indonesia sehat sejahtera.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 230119

Pict.Pribadi

Kategori
Daily Stories Review Produk

Ternyata Alat Suntik BKKBN berbeda dengan Alat Suntik Lain

Sebenarnya aku membuat tulisan ini secara tidak langsung memberi tahu kebodohanku sendiri. Tetapi tak apalah, daripada ada lagi yang mengalami. Jadi siapa tahu dengan berbagi pengalaman, tidak terjadi lagi kesalahan seperti yang kulakukan.

Sejak April 2018, aku pindah tugas ke Kantor Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana di kota kami ditempatkan di UPTD Kecamatan. Sebagai pegawai di instansi KB, kami juga harus menggarap calon akseptor (istilah para penyuluh) supaya dengan sukarela memberi diri untuk memakai alat kontrasepsi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi calon akseptor.

Untuk metode kontrasepsi jangka panjang, calon akseptor diarahkan ke faskes dan bila perlu didampingi oleh penyuluh ataupun kader KB.

Cerita ini pun diawali ketika kami mendampingi calon akseptor untuk pemasangan implant sebagai salah satu jenis Metode Kontrasepsi Jangka Panjang.

Karena kebetulan basicku dari kesehatan, jadi sewaktu pemasangan aku ikut mendampingi bidan yang akan memasang. Bidan itu pun minta tolong supaya aku membantu menyedot obat anastesi lokal (Lidocain) ke spuit 3 cc .

Aku pun mengeluarkan spuit dari bungkusnya, mengetatkan persambungan nald dan mendorong udara keluar. Karena itulah yang dilakukan bila memakai spuit yang biasa di rumah sakit ataupun yang kita beli di apotek.

Dan, krek … tiba-tiba terdengar suara seperti patah dan ternyata spuit sudah rusak, penarik tidak bisa bergerak lagi .

Ketika aku memberitahukan hal itu kepada bidan, dia pun tertawa dan mengatakan memang begitulah spuit untuk suntik KB. Memang didesain hanya untuk pemakaian 1 kali pakai otomatis rusak. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan perlakuan terhadap spuit bekas tersebut. Memang seharusnya semua spuit dissposible di pelayanan kesehatan harus sekali pakai dan langsung dimusnahkan karena spuit digunakan untuk memasukkan cairan obat/ bahan tertentu ke dalam jaringan tubuh dengan cara menusukkan kemudian memindahkan ataupun mendorong cairan obat ke dalam tubuh. Dalam proses itu sebagian cairan tubuh kemudian mencemari atau berada di dalam alat suntik yang telah dipakai, di dalam jarum dan tabung suntik, ikut serta di dalamnya berbagai unsur kimia tubuh dan mungkin pula kuman/ bibit penyakit yang berbahaya bagi kesehatan.
Oleh karena itulah maka spuit tersebut harus dimusnahkan. Tetapi mengingat sebelum terjadi pemusnahan bisa saja terjadi penyimpangan, misalnya ada pemulung ataupun orang yang tidak mengerti yang mengumpulkan dan memakai untuk keperluan lain dimana hal tersebut bisa mengakibatkan terjadinya penularan penyakit berbahaya tanpa disadari.
Itulah sebabnya spuit BKKBN didesain khusus.

Demikian panjang lebar penjelasan ibu bidan tersebut kepadaku. Setelah aku cari dan baca lagi, memang benar seperti itu adanya.

Jadi, dalam pemakaian spuit tidak boleh mendorong penuh sebelum mengisap cairan obat/mengisi tabung. Karena itu akan membuat spuit menjadi rusak sebelum dipakai seperti yang aku alami.

Begitulah pengalamanku dengan spuit BKKBN yang ternyata berbeda dengan spuit yang biasa aku pakai. Semoga tidak ada yang mengulangi kesalahan seperti yang kulakukan. Karena sayang sekali kalau ada spuit yang terbuang percuma, rusak sebelum dipakai .

Terakhir, sebagai pengingat untukku, “Tidak ada yang salah dengan tidak tahu, yang salah adalah kalau kita tidak mau tahu dan tidak mau belajar.”

-GASSMOM-
Pematangsiantar, 270918

note:-

spuit = alat suntik-

akseptor KB =peserta KB

Sumber gambar : Dokumentasi Pribadi

Tulisan ini sudah pernah diunggah di PlukMe.

Kategori
KB Kesehatan dan Keluarga Berencana kontrasepsi Uncategorized

Apa itu Kontrasepsi Mantap MOW (Metode Operasi Wanita)

Karena pada Hari Jumat tanggal 21 September 2018 kemarin, instansi kami melaksanakan Kegiatan MOW yang dilaksanakan di RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar, jadi saya ingin menuliskan sedikit catatan tentang MOW. Sebagai review untuk diri sendiri dan siapa tahu bisa bermanfaat bagi orang lain.

Adapun defenisi MOW (Metode Operasi Wanita) adalah metode kontrasepsi mantap bagi seorang wanita yang tidak ingin hamil lagi. Dilakukan dengan cara Tubektomie yaitu pengikatan ataupun pemotongan pada tuba fallopi (saluran yang menghubungkan kandung telur dengan rahim), sehingga sel telur tidak bisa memasuki rahim untuk dibuahi.

Manfaat dari metode ini yaitu:

  • Efektifitas tinggi 99,5 %
  • Tidak mempengaruhi proses menyusui
  • Tidak ada efek samping jangka panjang
  • Tidak ada perubahan fungsi seksual
  • Berkurangnya resiko mengalami kanker indung telur

Adapun metode ini bersifat permanen dan tidak bisa dipulihkan kecuali melalui operasi Rekanalisasi, oleh karena itu perlu pertimbangan yang matang sebelum memutuskan metode ini.

Keuntungan MOW yaitu :

  • Lebih aman
  • Lebih praktis (hanya satu kali gerak)
  • Lebih efektif (tingkat kegagalan kecil, kontrasepsi permanen )
  • Lebih Ekonomis (satu kali gerak saja)

Kriteria untuk Tubektomie :

  • Usia lebih dari 26 tahun
  • Jumlah anak lebih dari 2 orang
  • Sukarela dan sudah paham dengan prosedur MOW
  • Yakin telah mempunyai anak sesuai harapan keluarga
  • Pasca persalinan dan pasca keguguran
  • Wajib menandatangani informed Consent.

Yang tidak diperbolehkan melakukan MOW :

  1. Hamil positif (sudah terdeteksi atau dicurigai)
  2. Perdarahan vaginal yang belum jelas penyebabnya
  3. Ada infeksi sistemik atau penyakit radang panggul
  4. Kurang pasti mengenai keinginan menambah anak di masa depan
  5. Tidak ada Informed Consent

Itulah sekilas review tentang MOW. Dan bila memang sudah yakin tidak ingin menambah keturunan lagi saya sarankan lebih bagus melakukan kontrasepsi mantap MOW. Hanya sekali pelaksanaan dan selanjutnya kita sudah tenang, tidak ada lagi rasa was-was apakah terlambat melakukan kontrasepsi, atau was-was apakah hamil. Kita tinggal fokus mengasuh anak yang sudah dipercayakan Tuhan kepada kita dan fokus merawat diri kita sendiri.

Salam Keluarga Berencana

Dua anak cukup.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 230918

Referensi artikel :Kumpulan Materi Dasar Promosi KB Pasca Persalinan dan Pasca Keguguran,BKKBNRI,2017

Sumber foto:

Tulisan ini sudah pernah diunggah di PlukMe