Kategori
Pematangsiantar

Pematangsiantar Sudah Level 3

Hari ini, Selasa 07 September 2021, Kota Pematangsiantar resmi turun level ke PKKM level 3. Setelah sebelumnya berada di level 4 tahap 2.

Kategori
Daily Stories

BPJS

” Yang pasti BPJS sangat membantu. Saya sudah merasakan bagaimana BPJS sangat membantu ketika sedang sakit.” Ujar seorang ibu.

“Saya sangat berterima kasih dengan adanya BPJS ini.” Ibu tersebut pun melanjutkan ucapannya. “Makanya kalau ada yang belum punya, selalu saya sarankan untuk mendaftar. Hitung-hitung untuk jaga-jaga lho, karena kita tidak tahu bagaimana kita besok. Kalau tidak terpakai ya bersyukur karena itu artinya kita tidak sakit. Dan kita sudah menolong orang lain dengan iuran kita. Tapi kita harus rutin membayar. Anak saya yang sudah meninggal pun sampai saat ini tetap saya bayar iuran BPJSnya.”

Lho, kenapa masih dibayar Bu? Laporkan saja ke kantor BPJS dan bawa surat kematian supaya dikeluarkan dari daftar keluarga.” ujar seorang ibu.

“Nggak apa-apa Dek. Memang sengaja tetap saya bayar. Sudah saya niatkan kalau itu untuk membantu orang yang membutuhkan.” Jawab ibu tersebut.

“Membantu orang secara langsung sajalah Bu. Berikan kepada orang yang ada di sekitar kita yang kita lihat membutuhkan.” Ujar ibu yang lain.

“Bisa saja sih, tapi saya sudah memutuskan memilih cara tetap membayar lewat nama anak saya itu. Karena kalau uang itu ada secara tunai, belum tentu bisa saya serahkan kepada yang membutuhkan setiap bulan. Dan rasanya juga terlalu sedikit bila memberi langsung dengan jumlah itu. Jadi biarlah tetap saya bayar rutin setiap bulan.” Jawab ibu itu lagi.

Terus terang salut juga melihat si ibu dengan pilihan yang dia buat.

Dan aku juga memiliki prinsip yang sama dengan ibu tersebut. Aku sendiri sudah sekian tahun membayarkan BPJS untuk kedua orangtua kami yang di kampung. Rutin setiap bulan sebelum tanggal 10. Sebenarnya mereka menolak karena tidak ingin menambah bebanku. Tetapi aku sudah memutuskan bahwa aku harus melakukan itu. Aku memikirkan hal terburuk, seandainya di hari tua mereka mengalami sakit dan terpaksa opname, aku bukanlah orang yang berkecukupan yang mempunyai simpanan banyak untuk membantu mereka. Penghasilan yang aku peroleh hanya mencukupi kebutuhan sebulan. Tetapi bila kartu itu ada, bagaimanapun aku akan sangat terbantu karena paling tidak mempunyai akses untuk pertolongan pertama.

Sekian lama aku masukkan BPJS, hanya mama yang sudah pernah mempergunakannya untuk operasi Katarak.

Banyak memang yang berpendapat bahwa alangkah ruginya ketika kita rutin membayar setiap bulan tetapi tidak pernah memakai. Tapi aku malah berpikir sebaliknya, bagiku lebih bagus aku membayar setiap bulan tetapi tidak pernah sekalipun mempergunakannya. Karena itu artinya semua sehat-sehat saja dan artinya kita sudah membantu orang lain dengan iuran kita. Harapanku kalau bisa sampai kapanpun BPJS itu tidak usah dipakai oleh kedua orangtuaku, walaupun aku terus dan terus membayar untuk mereka.

Kemarin, mama menelepon dan memberitahu tentang perubahan pembayaran BPJS yang mana akan naik 100 %. Mereka bilang supaya aku menghentikan saja BPJS mereka atau paling tidak menurunkan kelas. Ketika aku mengatakan tetap meneruskan, mereka pun mendesak supaya aku menurunkan kelas saja. Akhirnya karena mereka terus mendesak maka aku pun mengiyakan. Namun aku memutuskan tidak mengubah. Biarlah, berbohong sedikit tapi untuk kebaikan. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mereka, sumbangsih sebagai anak.

Pict. Pint

Gassmom-
Pematangsiantar, 221119

Iklan

Kategori
Pematangsiantar pengalaman tulisan Bebas

Lebih Enak Bekerja Dengan Batak atau Tionghoa?

Ini sebenarnya cerita beberapa tahun lalu. Waktu itu aku ketinggalan angkot yang lewat dari kompleks dan terpaksa ambil jalan pintas menyeberang ke jalan besar di belakang kompleks. Kalau dari sana pasti banyak angkot, walaupun mungkin penuh penumpang tapi masih bisa menyelipkan separuh badan karena aku juga tak terlalu besar bahkan masih masuk kategori ideal (what? He he he … maafkan kalau emak-emak memang kadang suka ngawur🤭)

Kategori
Cerita di angkot KB kontrasepsi

Ketika Suami Yang Ngidam

“Aku sudah tutup Bu. Terpaksa. Karena waktu hamil, suami ngidam parah banget.”

Sebelumnya aku tidak terlalu tertarik dengan perbincangan sesama ibu-ibu tersebut yang berada satu angkot denganku. Mereka melakukan konferensi ala emak-emak dan aku sibuk sendiri berselancar melalui handphone. Namun, mendengar penuturan ibu itu, aku agak tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.

Seorang ibu, masih muda dan cantik. Dia bersama sepasang anak laki-laki dan perempuan. Paling besar laki-laki sudah SD dan paling kecil kira-kira usia 3-4 tahun. Menurutnya sekarang dia berprofesi sebagai tenaga salon online. Menerima kostumer secara online dan bersedia dipanggil ke rumah. Dia tidak mau terikat lagi dengan suatu pekerjaan karena mau konsentrasi mengurus anak.

“Oh, ya? Emang suami ngidam sampai gimana?” tanyaku.

“Iya lho, suamiku itu … 2 kali aku hamil anakku ini dan 2 kali itu juga dia ngidam. Sampai tidak bisa bekerja. Terpaksa dalam keadaan hamil aku bekerja mencari uang karena kondisi suami begitu.” jawabnya.

” Muntah-muntah gitu ya?” ku tanya lagi.

“Muntah-muntah, mual, tidak bisa makan apapun dan lemas. Tidak bisa mencium bau apapun pasti mual dan muntah. Dia juga ingin makan ini dan itu dan hanya bisa makan yang dia inginkan itu. Bayangin saja, aku lagi hamil gendut terpaksa pergi mencari apa yang dia inginkan biar dia bisa makan. Aku juga terpaksa bekerja karena dia benar-benar lemas tak bisa ngapa-ngapain. Padahal aku gendut lho kalau hamil, berat badan selalu diatas 90 kg.” ujarnya sambil tertawa.

“Ha ha ha, ternyata benar ada ya suami yang ngidam sewaktu istri hamil.” ujarku sambil tertawa.

“Iya lho Bu dan suamiku itu buktinya. Makanya begitu lahir anak kedua ini kami memutuskan langsung KB, tutup langsung. Suami pun sudah menyerah jangan sampai terulang ketiga kali mengalami ngidam begitu. He he he…” jawabnya.

“Iyalah, lagipula sudah sepasang. Sudah lengkap.” ujarku.

Tak berapa lama ibu tersebut pun turun karena sudah sampai di rumahnya.

Gassmom-
Pematangsiantar, 150319