Kategori
Daily Stories

Selamat Jalan Orang Baik

“Kenapa ya orang baik selalu cepat pergi?”

Pertanyaan itu mungkin sering tercetus ketika seseorang berpulang saat usia masih muda. Dan saat ini pertanyaan itu kembali mencuat di antara kami.

Kemarin sore, begitu buka Fb, aku melihat postingan seorang teman yang mengatakan seorang teman satu kelas saat SMP telah berpulang. Kaget sekaget-kagetnya … karena selama ini dia baik-baik saja. Akhir tahun kemarin dia baru melepas masa lajangnya. Selama ini dia sibuk berkarir di Kalimantan. Kembali ke Sumatera, menetap di Medan, kerja dan membuka sebuah usaha. Dia merupakan teman yang paling lama mengakhiri masa lajang. Rumah tangga mereka masih dalam tahap penuh bahagia dan ternyata belum setahun mereka menikah dan dia pun berpulang untuk selamanya.

Dia, teman satu kelas waktu SMP dan duduk di barisan sebelah barisanku, merupakan sosok baik, tidak banyak bicara tapi super smart. Tak heran sewaktu melanjut SMA, dia termasuk salah satu yang lulus di SMA yang paling ketat persaingan saat itu, demikian juga waktu kuliah. Dia pintar dan serba bisa, itu menurutku. Bukan hanya di pelajaran tapi dia multitalent. Aku ingat pernah menunjukkan sebuah foto kepada dia dan mengatakan aku suka profil seperti di foto itu dan saat pelajaran kosong dengan cepat dia membuat sketsa foto itu dan hasilnya benar-benar keren. Musik juga dia bisa. Termasuk aktif dalam kegiatan pemuda di gereja. Demikian juga terhadap keluarga. Orang baik, itu julukan kepadanya.

Dan, kini dia telah berpulang. Sedih sekali mendapat berita ini.

Selamat jalan kawan, tenanglah bersama Bapa di Surga. Semoga istri dan keluarga yang ditinggal tabah dan segera dipulihkan.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 091119

Iklan
Kategori
Daily Stories

Tak Sempat Lagi

Pertemuan sedang berlangsung, seorang narasumber sedang menyampaikan pemaparan ketika terdengar ketukan di pintu ruang pertemuan.

” Selamat siang Bu, maaf mengganggu. Bu, boleh saya memanggil kader kami sebentar? Kebetulan kader kami ikut dalam pertemuan ini. Ada sedikit keperluan.”

“Oh, silahkan Bu. Kader Ibu ini siapa ya? Nggak apa-apa, selesaikan saja dulu urusannya.”

Kader yang dimaksud pun keluar dari ruangan dan kegiatan pertemuan tersebut kembali berlanjut.

Tak sampai 15 menit kemudian, pintu diketuk kembali.

“Maaf Bu, boleh mengganggu lagi? Jadi begini Bu, boleh saya menompang mengambil foto diri saya dalam kegiatan ini? Sebentar saja Bu.”

Karena kebetulan kegiatan ini juga ada sangkut paut dengan si tamu dan karena memikirkan juga tak ada ruginya kalau memberi izin maka si tamu pun dipersilahkan masuk dan berfoto dalam barisan tempat duduk para peserta.

“Terimakasih banyak Bu. Permisi Bu” Ujar sang tamu setelah selesai mengambil dokumentasi dan keluar dari ruangan.

Tak sampai 15 menit kemudian, pintu diketok kembali oleh si tamu tadi.

“Maaf mengganggu lagi Ibu. Ternyata saya harus memiliki dokumentasi berdiri di depan peserta. Boleh ya Bu, minta tolong ya Bu …”

“Oh, nggak apa-apa. Silahkan saja Bu. Namanya kita harus saling tolong menolong.” Ujar pembawa acara.

Si tamu pun mengambil posisi di depan dan mengambil beberapa dokumentasi bersama temannya.

Setelah selesai, merekapun keluar dan acara dilanjutkan kembali.

Tak berapa lama, kegiatan selesai dan kebetulan narasumber ingin mengambil dokumentasi bersama peserta pertemuan. Setelah beberapa foto sepertinya kurang lengkap karena selalu ada peserta yang tidak ikut serta karena mengambil foto. Akhirnya si pembawa acara tadi pun teringat kepada sang tamu dan temannya yang kebetulan masih berada di lokasi ruang pertemuan. Si pembawa acara pun menemui mereka dan meminta tolong untuk mengambil foto dokumentasi peserta pertemuan supaya lengkap tanpa kecuali.

Dan, dengan gaya yang sukar dilukiskan dengan kata, sang tamu dan temannya menolak sembari berkata, “Nggak, nggak sempat lagi kami. Kami buru-buru. Kami sedang ditunggu di kantor.”

Si pembawa acara tadi pun hanya mampu terdiam dan berharap saat itu juga dirinya sedang berada di dalam film kartun. Karena rasanya ingin mengunyah langsung gadget yang sedang dalam genggamannya.

Pict. Pintr

-Gassmom-
Pematangsiantar,051119

Kategori
Daily Stories

Stiker Prasejahtera

Hari ini stiker untuk keluarga prasejahtera –Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)- mulai ditempelkan ke setiap rumah yang terdata sebagai keluarga prasejahtera dan mendapat bantuan dari pemerintah. Kader PKH , Dinas Sosial, Lurah, Babinsa serta Babinkamtibmas berkeliling di wilayah masing-masing.

Siang tadi tak sengaja kami bertemu dengan salah seorang kader PKH yang kebetulan menjadi kader KB juga. Dia cerita kalau hari ini mereka keliling menempelkan stiker tersebut. Kemudian dia juga cerita kalau banyak hal menarik dalam misi mereka hari ini.

Ada yang menolak kalau rumahnya ditempel stiker dan itu artinya nama yang empunya rumah dicoret sebagai penerima bantuan. Tetapi ada juga yang rumahnya bagus, punya mobil dan memiliki usaha las di sebelah rumahnya tetapi ternyata tidak keberatan ditempelkan stiker tersebut di rumahnya. Pihak Dinas sosial dan Babinsa pun tak habis pikir dan menanyakan kembali si empunya rumah dan jawaban tetap sama “bersedia ditempelkan stiker dan tetap menerima bantuan”. Team yang datang pun merekamnya lewat video tetapi si empunya rumah tetap bertahan untuk ditempelkan stiker tersebut.

Mendengar cerita tersebut, kami hanya geleng-geleng kepala dan tak habis pikir. Koq ada ya manusia yang seperti itu. Sudah jelas terpampang bagaimana kondisi kehidupan dia yang jauh dari prasejahtera tetapi bersikukuh tetap terdaftar sebagai penerima bantuan. Padahal banyak yang sebenarnya lebih layak malah tidak memperoleh. Masih waras nggak ya …?

Stiker PKH dan BPNT yang ditempelkan di rumah penerima bantuan.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 091019

Kategori
Daily Stories

Kopi Aceh Kasar

Menjelang lebaran kemarin, Atok sebelah rumah kembali dari Aceh. Hampir sebulan beliau di Aceh dan itu adalah hal rutin yang dilakukan beliau sepanjang tahun karena semua sanak saudara masih di sana termasuk juga lahan masih luas di sana.

Berhubung Sachio sangat dekat dengan Atok, maka hampir setiap kembali dari Aceh pasti Atok bawa oleh-oleh penganan khas Aceh minimal pisang sale. Biasanya memang khusus untuk Sachio walaupun tak jarang kami pun kecipratan. Biasanya kami mendapat kopi Aceh.

Demikian juga kali ini, kami kecipratan oleh-oleh kopi Aceh lagi. Tapi kali ini berbeda. Kopi yang diberi oleh Atok adalah kopi yang masih benar-benar kasar bahkan sebagian masih tampak utuh. Tapi walaupun kasar namun cukup garing juga. Kalau digigit terasa renyah.

Sempat bingung juga, gimana cara mengolahnya? Sempat terbayang mesin penggiling kopi yang sering tampak di iklan yang digunakan oleh mereka yang mengolah kopi sendiri. Tapi tidak mungkin hanya karena kopi yang tak bisa dibilang banyak maka aku harus membeli alat itu. Tapi kalau dibiarkan begitu saja sayang juga, itu namanya tidak menghargai pemberian.

Akhirnya, ketika kebetulan stok kopi juga habis maka aku pun memutuskan mengolah kopi tersebut. Akhirnya kuseduh saja dalam bentuk seperti itu. Pertama sempat ragu, gimana rasanya ya nanti?

Tetapi ternyata keraguan itu tanpa alasan. Bentuk kopi yang begitu ternyata tidak mengurangi nikmat rasanya. Malah rasanya seperti ada sensasi tersendiri daripada kopi yang lebih halus. Lebih segar dan lebih natural dan menurutku memiliki manis alami jadi tidak perlu menambahkan banyak gula.

Walaupun untuk rasa manis ternyata aku dan suami memiliki persepsi yang berbeda. Menurutku malah terlalu manis karena sudah ada manis alami tetapi ternyata menurut suami, kopi yang kubuat tersebut sangat pahit. Tetapi untuk nikmat kopi yang segar dan natural sepertinya kami sepakat.

Repotnya menyeduh kopi dengan bentuk kasar begini memang mengharuskan menyaring lagi. Tetapi itu tidak apa-apa dibanding nikmat yang diperoleh.

Sekarang stok kopi dari Atok telah habis. Dan seandainya tidak ingat malu, ingin rasanya datang lagi ke rumah Atok dan meminta tambahan kopi he he he.

Kopi Aceh

-Gassmom-
Pematangsiantar, 150619

Kategori
Daily Stories

Kemenangan Mereka Namun Kekalahan Bagiku

Dan akhirnya Ramadhan berakhir hari ini. Wujud kemenangan bagi mereka yang menunaikan. Gema takbir pun berkumandang dimana-mana. Kemenangan bagi mereka tetapi meninggalkan kekalahan bagiku.

Ya, kekalahan atas target-target yang kubuat selama satu bulan ini. Mengingat selama puasa jam kerja dipersingkat maka aku pun berusaha membuat target-target yang harus dicapai.

Ada beberapa, diantaranya yang personal yaitu:

1. Menyelesaikan satu projek Kristik minimal 1 pola.

2. Membuat tulisan minimal 1 perhari.

3. Memindahkan puisi-puisi ngawurku ke dalam sebuah buku tulis dalam bentuk tulisan tangan.

Itu target yang utama. Dan hasilnya nol besar. Satu pun tidak tercapai. Entah kenapa kalau target pribadi begitu rasanya sangat sulit mencapainya. Tidak tahu juga karena status sebagai emak rempong yang kusandang membuat semua jadi begitu. Tak bisa dipungkiri rasa lelah lebih sering menguasai. Pada saat masih segar, susah bahkan tak bisa konsentrasi karena ada 4 anak yang bolak balik mengecoh konsentrasi. Pada saat mereka sudah tidur maka aku pun berusaha konsentrasi namun lelah menguasai dan membuatku tak jarang menemukan diri sudah berada di alam mimpi.

Begitulah yang terjadi saban hari sampai hari ini, dimana jangka waktu target pun berakhir tanpa hasil yang diperoleh.

Yah, dan begitulah. Waktu takkan bisa diulang, penyesalan juga tiada guna.

Akhirnya, Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 H bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir batin.

Gassmom-
Pematangsiantar, 040619

Kategori
Daily Stories Renungan

Stop Latah Menjadi Beban

“Bu, besok kami jadi berangkat ke Bali.” kata Ibu teman sejawat tadi sore sebelum kami beranjak pulang.

Kategori
Daily Stories Review Produk

Ternyata Alat Suntik BKKBN berbeda dengan Alat Suntik Lain

Sebenarnya aku membuat tulisan ini secara tidak langsung memberi tahu kebodohanku sendiri. Tetapi tak apalah, daripada ada lagi yang mengalami. Jadi siapa tahu dengan berbagi pengalaman, tidak terjadi lagi kesalahan seperti yang kulakukan.

Sejak April 2018, aku pindah tugas ke Kantor Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana di kota kami ditempatkan di UPTD Kecamatan. Sebagai pegawai di instansi KB, kami juga harus menggarap calon akseptor (istilah para penyuluh) supaya dengan sukarela memberi diri untuk memakai alat kontrasepsi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi calon akseptor.

Untuk metode kontrasepsi jangka panjang, calon akseptor diarahkan ke faskes dan bila perlu didampingi oleh penyuluh ataupun kader KB.

Cerita ini pun diawali ketika kami mendampingi calon akseptor untuk pemasangan implant sebagai salah satu jenis Metode Kontrasepsi Jangka Panjang.

Karena kebetulan basicku dari kesehatan, jadi sewaktu pemasangan aku ikut mendampingi bidan yang akan memasang. Bidan itu pun minta tolong supaya aku membantu menyedot obat anastesi lokal (Lidocain) ke spuit 3 cc .

Aku pun mengeluarkan spuit dari bungkusnya, mengetatkan persambungan nald dan mendorong udara keluar. Karena itulah yang dilakukan bila memakai spuit yang biasa di rumah sakit ataupun yang kita beli di apotek.

Dan, krek … tiba-tiba terdengar suara seperti patah dan ternyata spuit sudah rusak, penarik tidak bisa bergerak lagi .

Ketika aku memberitahukan hal itu kepada bidan, dia pun tertawa dan mengatakan memang begitulah spuit untuk suntik KB. Memang didesain hanya untuk pemakaian 1 kali pakai otomatis rusak. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan perlakuan terhadap spuit bekas tersebut. Memang seharusnya semua spuit dissposible di pelayanan kesehatan harus sekali pakai dan langsung dimusnahkan karena spuit digunakan untuk memasukkan cairan obat/ bahan tertentu ke dalam jaringan tubuh dengan cara menusukkan kemudian memindahkan ataupun mendorong cairan obat ke dalam tubuh. Dalam proses itu sebagian cairan tubuh kemudian mencemari atau berada di dalam alat suntik yang telah dipakai, di dalam jarum dan tabung suntik, ikut serta di dalamnya berbagai unsur kimia tubuh dan mungkin pula kuman/ bibit penyakit yang berbahaya bagi kesehatan.
Oleh karena itulah maka spuit tersebut harus dimusnahkan. Tetapi mengingat sebelum terjadi pemusnahan bisa saja terjadi penyimpangan, misalnya ada pemulung ataupun orang yang tidak mengerti yang mengumpulkan dan memakai untuk keperluan lain dimana hal tersebut bisa mengakibatkan terjadinya penularan penyakit berbahaya tanpa disadari.
Itulah sebabnya spuit BKKBN didesain khusus.

Demikian panjang lebar penjelasan ibu bidan tersebut kepadaku. Setelah aku cari dan baca lagi, memang benar seperti itu adanya.

Jadi, dalam pemakaian spuit tidak boleh mendorong penuh sebelum mengisap cairan obat/mengisi tabung. Karena itu akan membuat spuit menjadi rusak sebelum dipakai seperti yang aku alami.

Begitulah pengalamanku dengan spuit BKKBN yang ternyata berbeda dengan spuit yang biasa aku pakai. Semoga tidak ada yang mengulangi kesalahan seperti yang kulakukan. Karena sayang sekali kalau ada spuit yang terbuang percuma, rusak sebelum dipakai .

Terakhir, sebagai pengingat untukku, “Tidak ada yang salah dengan tidak tahu, yang salah adalah kalau kita tidak mau tahu dan tidak mau belajar.”

-GASSMOM-
Pematangsiantar, 270918

note:-

spuit = alat suntik-

akseptor KB =peserta KB

Sumber gambar : Dokumentasi Pribadi

Tulisan ini sudah pernah diunggah di PlukMe.