Kategori
celoteh anak Daily Stories

Musim Nyamuk

Beberapa hari ini, nyamuk sepertinya merajalela. Tidak siang tidak malam, nyamuk lebih banyak dari biasanya. Hal ini pastinya menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri untukku.

Kategori
Anak celoteh anak

Cecak atau Cicak?

Mentari belum lagi menunjukkan pesonanya, namun emak rempong seperti diriku sudah sibuk. Berkutat di dapur, menyiapkan segala sesuatu untuk sarapan keluarga.

Kategori
celoteh anak Cerita Anak

Bukunya Cakap Kotor

Setelah menyelesaikan buku sebelumnya, Sachio pun melanjutkan membaca buku berjudul Pukat. Buku ini merupakan salah satu dari buku serial Anak-anak Mamak karya penulis terkenal Tere Liye. Seperti biasa siswa kelas dua SD tersebut membaca dengan serius. Tak jarang dia bertanya bila ada kata-kata baru yang belum pernah didengarnya.

Iklan
Kategori
celoteh anak

Wajah Ibu Seperti Hantu

Dia lewat lagi. Untuk kesekian kali Adel, bocah umur 4 tahun anak gang sebelah lewat dari depan rumah. Berhenti sebentar, menatapku dan memandang ke arah rumah. Sepertinya ada yang ingin ditanya tapi mungkin tidak berani atau bagaimana.

Kategori
celoteh anak

Hanya Jawaban Sederhana

“Mama, durian itu enak kan?”

“Iya.”

Kategori
celoteh anak

Jagung

“Ma, mulai sekarang mama tidak usah beli jagung lagi. Oke …?” Tiada angin tiada hujan tiba-tiba Sachio mengatakan itu beberapa hari yang lalu.

Lho kenapa? Bukannya kalian suka jagung?” Bukannya mengiyakan tapi mama malah balik bertanya.

“Ya, suka dong Ma. Nah, karena kami suka jadi Sachio dan Kak Sarah sudah menanam jagung. Biar Mama tidak usah keluar uang lagi untuk beli.” Jawab Sachio.

“Ooo, baguslah kalau begitu.” Ujar Mama.

Demikianlah setiap hari mereka memperhatikan perkembangan jagung yang mereka tanam. Setiap perkembangan membuat mereka begitu gembira. “Jagung kita sudah semakin besar.” Begitu kata mereka setiap hari.

Hari ini, Sachio menegaskan kembali bahwa Mama tidak usah membeli jagung lagi karena jagung mereka sudah akan menghasilkan.

Tak ingin merusak kesenangan mereka, Mama hanya mengiyakan dan tidak memberikan komentar apa-apa. Biarlah seiring waktu mereka menyaksikan perkembangan demi perkembangan si jagung, apakah benar akan menghasilkan atau bagaimana. Karena kadang kalau diberi koreksi terhadap pekerjaan mereka hanya akan berlalu begitu saja. Tapi kalau mereka menjadi saksi bagaimana terjadinya kekeliruan demi kekeliruan maka mereka akan mengingat untuk hari-hari selanjutnya. Termasuk perkara jagung ini, daripada mama yang membuat mereka kecewa, biarlah waktu yang menempa mereka untuk menerima kegagalan dan kekecewaan.

Pict. Pribadi

-Gassmom-
Pematangsiantar, 141219

Kategori
celoteh anak Cerita Anak

Di Handphone Mamaku

“Hari ini cerita Alkitab kita tentang Kain dan Habel. Di mana pada suatu hari Kain dan Habel mempersembahkan korban Bakaran kepada Tuhan. Tuhan berkenan kepada korban bakaran Habel tetapi sebaliknya Tuhan tidak berkenan kepada korban bakaran Kain.” Bang Jhon sang guru sekolah minggu pun membuka cerita khotbah di hadapan anak-anak sekolah minggu yang mendengarkan dengan serius.

“Sebelum kita memulai cerita, Abang ingin bertanya, siapa yang pernah melihat api kurban bakaran Kain?” Tanya Bang Jhon.

Dan Sachio pun tunjuk tangan.

“Oh, Sachio katanya sudah pernah melihat. Di mana kamu lihat apinya Sachio?”tanya Bang Jhon.

Dengan penuh percaya diri, Sachio pun menjawab, “Di Handphone mamaku.”

Seketika ruangan sekolah minggu pun dipenuhi dengan tawa mendengar jawaban dari Sachio. Hal itu membuat Sachio semakin sumringah karena merasa sudah membuat semua senang karena dia berhasil menjawab pertanyaan dari Bang Jhon.

***

Sesampai di rumah, Sonia sang kakak yang menemani Sachio sekolah minggu pun menceritakan kepada mama tentang Sachio yang menjawab pertanyaan Bang Jhon dan menjawab bahwa dia sudah pernah melihat di handphone mama. Sonia juga menceritakan bagaimana anak-anak sekolah minggu yang lebih besar menertawakan jawaban Sachio. Sachio yang ikut mendengarkan pun langsung menceletuk, “Iya dong Ma, mereka semua tertawa karena mereka senang Sachio sudah menjawab. Dan memang benar Sachio sudah pernah melihat api di handphone mama.”

Tak ingin membuat Sachio patah semangat, mama pun menjawab, “Bagus dong Sachio sudah tunjuk tangan. Dan itu artinya Sachio memperhatikan guru bercerita. Buktinya pertanyaan yang ditanyakan bisa dijawab.”

Mendengar jawaban itu, wajah Sachio pun semakin berseri-seri. Tinggal mama dan Sonia yang tersenyum menahan tawa.

***

Catatan.

Cerita ini adalah sebuah draft dari 2017, berdasarkan kisah pengalaman Sachio sewaktu masih berusia 4 tahun.
Kain dan Habel adalah kisah Alkitab yang tertulis di Perjanjian Lama yaitu kitab Kejadian 4:1-16.

Api Korban Bakaran Kain dan Habel.(Pict. Pint)

Kain dan Habel adalah anak Adam dan Hawa. Kain menjadi petani dan Habel menggembala kambing domba. Suatu hari Kain dan Habel mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan. Kain mempersembahkan sebagian hasil tanah dan Habel mempersembahkan dari anak sulung dombanya. Korban bakaran Habel berkenan kepada Tuhan tetapi sebaliknya korban bakaran Kain tidak diindahkan Tuhan.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 071219

Kategori
celoteh anak Cerita Anak

Menghormati

“Ma, hari Senin dan Selasa kami libur. Jadi Sarah tidak sekolah.” lapor Sarah begitu pulang sekolah.

“O, ya? Kenapa bisa libur?” tanya Mama.

“Iya dong Ma. Hari Senin mulai puasa. Jadi kami libur untuk menghormati agama Islam yang berpuasa.” jelas Sarah.

“Tapi khan kalian tidak puasa?”

” Memang tidak, kita khan bukan Islam. Khan sudah Sarah bilang, … menghormati lho Ma.” jelas bocah siswa kelas 2 SD di sebuah sekolah yayasan Katholik tersebut.

“Ooo, menghormati. Apa rupanya menghormati itu?” tanya Mama lagi.

“Mama ini lho, masak tidak tahu menghormati apa. Menghormati itu, kalau Islam hari raya yang Kristen juga libur. Kalau Kristen bernatal maka yang Islam juga libur. Seperti yang Mama bilang itu, kalau sedang ada wirid kita tidak boleh ribut. Jadi kalau kita Natal, mereka juga tidak boleh ribut. Begitu lho Ma.” jelas Sarah panjang lebar.

“O, ya? Tapi di sekolah kalian khan tidak ada yang beragama Islam?”

“Iya lho Ma. Coba dibalikkan kita jadi Islam dan mereka jadi Kristen. Bagaimana kalau tidak dihormati? Makanya kami libur hari Senin dan Selasa. Biarpun tidak ada yang Islam. Pokoknya menghormati lho Ma.”

“Okelah kalau begitu, gantilah bajumu itu.” ujar Mama tanpa berpanjang lebar lagi. Karena tadinya pun Mama hanya berniat menguji sejauh mana pemahaman siswa kelas 2 SD tersebut tentang menghormati. Mendapat jawaban begitu rasanya tidak usah diperpanjang lagi. Biarlah waktu yang akan memperkuat pemahaman dan praktek menghormati dari seorang Sarah.

Sarah

Gassmom-
Pematangsiantar, 040519

Kategori
celoteh anak Tentang anakku

“Jangan Kasih Tahu Mama”

“Ma, memang nggak boleh minum es batu ya?” tanya Sean si bocah 3 tahun kepada Mama

“Iya.”

“Tapi kemarin Sean dan Kak Sarah minum es batu.”

“O, ya?”

“Tapi Kak Sarah bilang jangan kasih tahu Mama.”

“Jadi kenapa Sean kasih tahu sama Mama?”

“Karena kan tidak boleh bohong.”

Hmm, dasar bocah.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 230319

Kategori
celoteh anak Cerita Anak Cerita Mini

“Bou, Di Sini Ada Islam?”

Azan magrib sudah berkumandang dari mesjid ketika Sean tiba di rumah Bou.

Karena kakaknya yang telah lebih dahulu tiba ternyata sedang asyik nonton maka Sean pun mencari kesibukan sendiri.

Seperti biasa bila sampai di suatu tempat, bocah berusia 3 tahun itupun memantau keadaan sekelilingnya. Semua diperhatikan. Ketika melihat salah satu pintu kamar setengah terbuka, ia pun mengintip dari pintu tersebut. Sejenak Sean terdiam melihat pemandangan yang dia lihat. Kemudian bergegas menemui Bou di dapur.

Bou, di sini ada Islam?” dengan polos Sean bertanya kepada Bou.

“Kenapa Sean? Bou Islam.” kata Bou.

“Sssttt, jangan keras-keras Bou. Bukan Bou. Lihatlah.” kata Sean sambil mengarahkan Bou menuju kamar dengan pintu setengah terbuka.

“Ooo, itu Kak Lia. Dia sedang sholat.” ujar Bou setelah melihat kedalam kamar. Ternyata dalam kamar ada Kak Lia, sepupu Sean yang baru datang dari Kalimantan. Kak Lia sedang sholat.

“Ooo, Kak Lia Islam …” kata Sean sambil manggut-manggut.

“Iya lho Sean. Bou juga Islam. Sean Islam juga?” tanya Bou.

“Nggak, Sean Kristen.” jawab Sean.

“Ooo …”

“Sst, jangan cerita-cerita lagi kita Bou. Kalau ada yang sholat kita tidak boleh ribut.” ujar Sean dengan sikap sok bijak.

Bou pun manggut-manggut, tetapi tetap tak bisa menahan geli melihat cara dan sikap Sean.

Malam pun menjelang dan ada beberapa saudara yang datang. Setiap ada yang datang tak bosan-bosannya Bou bercerita tentang Sean dan kata-katanya. Menurut Bou, dia benar-benar tak habis pikir bagaimana anak seumur Sean bisa bersikap begitu.

Gassmom-
Pematangsiantar, 220219

Ps.
Bou, amboru, polu: Panggilan kepada saudara perempuan ayah (Bahasa Batak Simalungun).