Kategori
buku Review Buku

Perempuan Meniti Jalan

Pict. Gassmom

Tak bisa dipungkiri, embel-embel di belakang nama penulis cukup berpengaruh. Termasuk latar belakang dalam dunia kepenulisan. Itu bisa menjadi semacam daya jual yang mendongkrak penjualan buku.

Hal tersebut pula yang mempengaruhi dan membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak membeli buku Perempuan Meniti Jalan. Sejak awal flyer promosi diluncurkan, aku sudah cukup penasaran dan teramat ingin membeli. Awalnya masih berhasil menahan diri dengan alasan masih ada kebutuhan lain. Akan tetapi, pertahananku jebol ketika di WAG ada lagi tim promo yang mengabarkan kalau jumlah penjualan begitu memuaskan sekaligus bertanya, siapa tahu masih ada yang berminat order.

Akhirnya, aku seolah terhipnotis melakukan order dan mentransfer biaya pembelian. Eh, ini bercanda deh … tak mungkin aku terhipnotis, yang pasti aku melakukan dengan sadar karena sebenarnya jauh hari juga sudah menginginkan buku ini.

Buku ini adalah antologi cerita pendek dari 21 penulis di mana mereka semua adalah mantan jurnalis dari Femina Grup, media wanita paling terkemuka di Indonesia. Mereka juga sudah diakui kemampuannya sewaktu masih berkarir maupun setelah tidak bergabung lagi.

Aku ingat, betapa mengasyikkan membaca cerpen yang ada di media tersebut. Tidak panjang namun padat dan endingnya selalu makjleb, tak pernah mengecewakan. Mengingat itu, membuatku semakin penasaran, akan seperti apakah kumpulan cerpen mereka.

Begitu buku sampai, aku langsung membacanya. Ternyata ekspektasi memang sesuai dengan kenyataan. Mereka benar-benar hebat. Semua cerita dikemas dengan luar biasa. Tema perempuan dikembangkan sedemikian rupa. Ibarat makanan, renyah tapi bergizi. Aku menikmati semua tulisan di buku ini. Merasa bersyukur sudah membeli bukunya karena memang tidak mengecewakan.

Walaupun ini antologi, ada beberapa kutipan yang berkesan dan ingin kubagikan juga di sini.

  1. Pada akhirnya, yang abadi dalam hidup adalah hal-hal yang belum selesai: cinta tak pernah diungkapkan, kasih tak sampai, keputusan yang tak pernah dibuat, pilihan yang tak pernah diambil, kata maaf yang terlambat diucapkan atau diberikan, juga kesempatan, peluang dan niat baik yang selalu diabaikan. Dan alangkah singkatnya hidup untuk diisi dengan semua kebodohan itu. (hal.65, Sida Mukti Eyang Putri, Jane Ardaneshwari)
  2. “Orang-orang muda selalu memuja waktu, meninggalkan hal-hal penting dalam kehidupan mereka. Melupakan janji-janji, melupakan kebahagiaan maupun kesedihan. Mereka sibuk mengumpulkan harapan-harapan, tapi mereka lupa untuk menikmati setiap tahapnya. Sesuatu di luar sana adalah satu-satunya tujuan. Padahal waktu hanyalah permainan gelap dan terang. Gelap yang membuat kita tak mampu melihat dan terang yang membutakan ….” (hal. 74, Perempuan Tua dan Kotak Hitamnya, Irda Triany MN)
  3. Keinginan, katanya, seringkali mendorong kita melakukan hal-hal bodoh. Bahkan keinginan untuk berbuat baik sekalipun. (hal. 80, Perempuan Tua dan Kotak Hitamnya, Irda Triany MN)
  4. Kita selalu menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya, dan melarikan diri pada bentuk-bentuk abstrak pikiran. Lalu ketika semua menjadi kenyataan, kita merasa, itulah sesungguhnya yang kita cari,”. (hal. 80, Perempuan Tua dan Kotak Hitamnya, Irda Triany MN)
  5. Hati-hati pada permainan pikiran yang seringkali melakukan pembenaran. Berdamailah dengan hatimu, dalam situasi paling sulit sekalipun. (hal. 84, Perempuan Tua dan Kotak Hitamnya, Irda Triany MN)
  6. “Sebuah hubungan memang membutuhkan ikatan cinta. Namun yang lebih penting lagi adalah saling menghargai dan memahami.” (hal. 119, Sebuah Jejak Kecil, Ietje S. Guntur)
  7. Akan selalu ada ombak jika kita berlayar. Akan selalu ada onak jika kita berladang.” (hal. 140, Rahasia di Mata Ibu, Farick Ziat)
  8. Yang sudah terjadi tak usah disesali. Besok sudah berganti hari (hal.199, Temui Aku di Kedai Kopi, Terry Endropoetro)
  9. Kehidupan ini seumpama jalan yang harus kita tempuh hari demi hari. Hanya sedikit jalan yang mulus lagi lurus, lebih banyak yang bergelombang, berkerikil dan berliku. Di mana-mana susah berdampingan dengan senang, kegagalan bersisian dengan keberhasilan. (Cover belakang, blurb)

Judul Buku : Perempuan Meniti Jalan
Penulis : Belinda Gunawan dkk
Penerbit : Elfa Mediatama
Tahun Terbit : Cetakan I, September 2021
Jumlah Halaman : 272 halaman

Gassmom, 16/ 12/ 2021

Iklan

Oleh Sondang Saragih

Semua baik, apa yang Tuhan perbuat dalam hidupku.
Everymoment Thank God.

2 replies on “Perempuan Meniti Jalan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s