Kategori
buku Review Buku

Hafalan Shalat Delisa-Tere Liye ( Review Buku)

Ah, selalu begitu. Kejadian yang tak terhindarkan, selalu mendidik manusia-manusia terbaikMu dengan cepat. Kejadian itu selalu sementara. Pemahaman atas kejadian itulah yang abadi. (hal. 102)

Jujur, sewaktu membaca judul buku ini, aku sempat ragu untuk membeli dan terlebih dahulu bertanya kepada penjualnya terkait isi. Kebetulan buku ini aku beli dengan kondisi second, seperti kebiasaan selama ini. Bukan berniat untuk rasis tapi hanya ingin tahu sampai sejauh mana bahasan hafalan shalat tersebut.

Si penjual pun mengatakan, memang bercerita tentang hafalan shalat tetapi masih dalam batasan yang biasa seperti buku untuk umum. Itu aku pertanyakan karena walaupun aku membeli untuk diriku sendiri, tetapi aku juga memberikan kebebasan kepada anak untuk membaca. Aku takut bila terlalu mendalam, pasti akan menimbulkan pertanyaan demi pertanyaan yang belum tentu bisa aku jawab. Hanya itu dasar keraguanku, tidak lebih.

Buku ini berkisah tentang gadis cilik berusia 6 tahun bernama Delisa yang tinggal di kota kecil Lhok Nga. Delisa adalah si bungsu dari 4 bersaudara yang sedang berusaha menghafal bacaan shalat. Namun, entah kenapa dia mengalami masalah tersendiri dan belum bisa juga menghafal sampai tuntas.

Setting cerita adalah tahun 2004 sampai 2005. Kisah beberapa saat sebelum kejadian tsunami yang meluluhlantakkan Aceh dan banyak wilayah lainnya. Kisah juga berlanjut hingga beberapa bulan sesudah kejadian luar biasa tersebut.

Keceriaan masa kecil, keharmonisan keluarga dan rutinitas kanak-kanak yang mengasyikkan pada awal kisah. Hingga tiba hari ujian membacakan hafalan shalat bagi Delisa dan teman-temannya yang diuji oleh Bu Guru Nur. Semua berlangsung biasa pada hari itu, kecuali kegugupan Delisa sampai akhirnya gilirannya tiba. Delisa sudah membacakan hafalannya ketika semua terjadi, ketika gelombang tsunami mengacaukan segalanya termasuk membuat Delisa tidak bisa menyelesaikan bacaan shalatnya saat itu.

Satu hal yang membuatku terpukau membaca buku ini adalah cara Tere Liye mendeskripsikan tahap demi tahap bagaimana tsunami bergerak dan menyapu daratan. Cara menuliskan yang begitu detail, membuatku seolah melihat semua kejadian itu di depan mata. Ibarat tayangan film yang sempurna. Perjalanan gelombang berpadu dengan bacaan Delisa.

Namun, di antara beberapa buku Tere Liye yang sudah aku baca ( masih sedikit sih sebenarnya), di buku ini juga aku sedikit kecewa karena menemukan typo untuk preposisi dan pemakaian kata bergeming.

Akan tetapi terlepas dari itu, buku ini memang sangat hebat karena bisa mendeskripsikan kejadian tsunami dan situasi sesudahnya dengan begitu detail seolah mengalami sendiri.

Sebenarnya aku sudah sangat terlambat membaca buku ini karena ternyata cetakan pertama tahun 2005 serta best seller pula. Buku yang mendapat apresiasi luar biasa dan bahkan sudah diangkat ke layar lebar Walaupun filmnya juga belum pernah aku tonton.

Banyak nilai moral yang dapat dipetik dari buku ini, terutama ketulusan, keikhlasan serta ketegaran. Terutama dari Delisa, si tokoh utama. Bagaimana ketegarannya menjalani cobaan yang begitu berat, dan juga sampai akhirnya bisa mengiklaskan.

Beberapa kutipan yang aku catat dari buku ini:

  1. Ustadz hanya tersenyum mengangguk. Ah, pernikahan mereka tidak akan semeriah itu, Delisa. Dia kan hanya guru ngaji? Tetapi apa salahnya membuat Delisa senang. Mengangguk bisa berarti banyak hal, belum tentu berbohong. (hal. 42)
  2. Boleh jadi saudara-saudara kita akan menjadi tameng api neraka. Maka berbuat baiklah kepada mereka. Boleh jadi adik-kakak kita akan menjadi perisai cambuk malaikat. Maka berbuat baiklah kepada mereka. Boleh jadi saudara-saudara kita akan menjadi penghalang siksa dan azab himpitan liang kubur. Maka berbuat baiklah kepada mereka. (hal. 50).
  3. Delisa memang benar-benar berada dalam situasi yang tidak terelakkan. Dan seperti manusia-manusia terbaik pilihanMu, situasi ini akan mendidiknya menjadi lebih baik. Menjadi bersinar. Kejadian ini membuatnya cepat pulih. Berpikir banyak hal meski tanpa disadari oleh Delisa sendiri. (hal. 96)
  4. Ah, selalu begitu. Kejadian yang tak terhindarkan, selalu mendidik manusia-manusia terbaikMu dengan cepat. Kejadian itu selalu sementara. Pemahaman atas kejadian itulah yang abadi. (hal. 102)
  5. “Sabar … anakku! Allah akan membalas semua kesabaran dengan pahala yang besar!” (hal. 156)
  6. Jangan pernah lihat hadiah dari bentuknya. Lihat dari niatnya. Insya Allah hadiahnya terasa lebih indah …. ( 216)

Yang menarik juga dari buku ini, terdapat footnote yang berisi doa-doa islami yang dipanjatkan penulis untuk Delisa. Ada 27 footnote yang isinya lumayan panjang namun sangat indah karena ditulis serupa syair.

Judul Buku : Hafalan Shalat Delisa
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : Cetakan XIX, Februari 2012
Jumlah Halaman : 266 halaman

Gassmom, 27/08/2021

Iklan

Oleh Sondang Saragih

Semua baik, apa yang Tuhan perbuat dalam hidupku.
Everymoment Thank God.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s