Kategori
buku Review Buku

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin-Tere Liye

Hidup harus terus berlanjut, dalam bentuk apapun.

Februari sudah memasuki pertengahan bulan, namun belum bisa menggenjot minat bacaku untuk lebih. Niat boleh ada, semangat boleh ada, tapi giliran eksekusi pasti kacau. Begitu selalu yang terjadi, penuh drama ala emak rempong.

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, buku dari Tere Liye ini menjadi buku pertama yang berhasil aku tuntaskan tahun ini. Buku yang berkisah tentang cinta. Cinta Tania kepada dia, malaikat dalam kehidupan diri dan keluarganya.

Pict. Gassmom
Pict. Gassmom

Cerita dikemas sedemikian rupa berupa kilas balik dari kenangan yang diputar kembali oleh Tania melalui sebuah permenungan. Mengingat kembali perjalanan kehidupannya mulai dari kanak-kanak hingga dewasa. Permenungan yang dilakukan di sebuah toko buku yang menjadi salah satu tempat paling mengesankan buatnya, terkait dengan orang yang dia cintai tersebut.

Kilas balik yang begitu mengesankan, termasuk perasaan cinta yang tidak pernah diungkapkan. Semuanya menyisakan satu teka teki yang harus dituntaskan pada malam itu.

Membaca buku ini, akan menemukan diksi indah yang bertebaran. Dari senandika oleh Tania sebagai tokoh aku dalam cerita. Kata-kata indah dengan metode showing sehingga serasa larut dalam kisah. Serasa banyak kosa kata yang layak dikutip untuk menyenangkan hati.

Kenangan demi kenangan pun bergulir sesuai alurnya, hingga sampai pada kisah malam permenungan tersebut. Ketika akhirnya teka teki itu menemukan jawaban, maka keputusan pun harus diambil.

Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang amat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapi dia tidak sempurna.
Hanya cinta yang sempurna. (hal. 256)

Kalimat tersebut pun melengkapi bab terakhir, menjadi keputusan yang ditempuh.

Seperti biasa, selain kalimat di atas, ada juga beberapa kutipan dan kalimat puitis lainnya yang sengaja aku sertakan dalam tulisan ini.

... Daun yang jatuh tak pernah membenci angin .... Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengiklaskan semuanya ..." (hal. 63

" ..., kehidupan harus berlanjut. Ketika kau kehilangan semangat, ingatlah kata-kataku dulu. Kehidupan ini seperti daun yang jatuh .... Biarkanlah angin yang menerbangkannya ..." (hal.70)

Aku bukan daun. Dan aku tak pernah menjadi daun! Aku tak pernah menginginkan perasaan ini, kan? Dia datang begitu saja. Menelusuk hatiku. Tumbuh pelan-pelan seperti kecambah yang disiram hujan. Aku sungguh tidak pernah menginginkan semua perasaan ini. (hal. 154)

Hidup harus terus berlanjut, dalam bentuk apapun. (hal. 160)

Ah, itulah masalahnya, dalam urusan perasaan, dimana-mana orang jauh lebih pandai "menulis" dan "bercerita" dibandingkan saat "praktik" sendiri di lapangan. (hal. 174)

Aku sebenarnya telah lama rileks dengan perasaanku. Sudah jauh lebih tenang. Memang masih mengganggu mengenang dan membicarakannya, tetapi itu tidak ada artinya apapun. Maksudnya, aku sudah mengerti benar tak ada lagi yang bisa kuperbuat, kan? Jadi daripada menyakiti diri sendiri, lebih baik kugunakan energi masa lalu itu menjadi sesuatu yang positif. Terlepas dari apakah itu baik atau buruk. (hal. 179)

Ah, yakinlah mengenang semua perasaan itu tidak sesulit yang dibayangkan. (hal. 181)

"Kebaikan itu seperti pesawat terbang, Tania. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa kenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat." (hal. 184)

"Bahwa hidup harus menerima ... penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti ... pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami ... Pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan." (hal. 196)

"Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu. Tumbuh satu langsung kaupangkas. Bersemai satuΒ  langsung kauinjak. Menyeruak satu langsung kaucabut tanpa ampun. Kau tak pernah memberikan kesempatan. Karena itu tak mungkin bagimu? Kau malu mengakuinya walau sedang sendiri ... (hal. 250)

Judul Buku : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan kelima, November 2011
Jumlah Halaman : 264 halaman

Gassmom, 19/02/2021

Oleh Sondang Saragih

Semua baik, apa yang Tuhan perbuat dalam hidupku.
Everymoment Thank God.

8 replies on “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin-Tere Liye”

Nah aku juga udah baca buku ini Mbak. Tapi nggak tahu kenapa ya, rasanya aku belum menemukan jawaban pasti apa yang membuat Tania pergi setelah mendengar siapa itu laki-laki namanya, aku lupa. Kan dibisikin gitu kan ya pas di akhir ceritanya. Sebenernya apa sih yang dibisikin. Kok sampe Tania kaget dan memutuskan pergi sekaligus membuang jauh harapannya. πŸ˜… coba bagaimana menurut kamu Mbak πŸ˜…

Suka

He he he … semua memang bisa berubah seiring dengan waktu. Mungkin hari ini aku menikmati, siapa tahu besok berubah pikiran eh,,, sorry … hanya sekedar pemikiran setelah membaca review negeri para bedebah di blog kemarin. 🀭

Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s