Kategori
Sebuah Perjalanan

Ponsel Tercecer di Bandara Soekarno Hatta

Setiap orang pastilah mengharapkan segala sesuatunya berjalan lancar. Hal ini juga menjadi harapan bila  melakukan sebuah perjalanan. Akan tetapi ada saatnya, harapan tidak sesuai dengan kenyataan.

Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi pengalaman kisah perjalanan baru-baru ini. Di mana dalam perjalanan tersebut, tanpa sengaja ponsel milikku tercecer di bandara.

Siang itu, kami tiba di Bandara Soekarno Hatta dan akan transit untuk penerbangan selanjutnya menuju Denpasar. Sebenarnya aku berniat mengaktifkan ponsel begitu sampai di gate selanjutnya. Namun entah bagaimana, aku tiba-tiba teringat dengan seorang teman. Seingatku, dia bekerja di bandara. Ada dorongan untuk menghubungi. Begitu naik ke bus bandara, aku pun mengaktifkan ponsel. Ternyata, bukan aku yang menghubungi duluan karena sudah masuk pesan WA darinya menanyakan sesuatu. Rupanya aku juga telah salah mengira, dia bukan bekerja di bandara.
Kami pun berbalas pesan sembari berjalan menuju gate transit selanjutnya.

Begitu tiba di pemeriksaan barang, ponsel aku masukkan begitu saja ke baki bersama jaket yang juga harus dibuka. Biasanya juga begitu dan tidak ada masalah.

Begitu barang-barang selesai diperiksa, salah seorang teman entah bagaimana mengajak untuk cepat bergerak. Dia memburu, sembari mengambil tas kecil yang aku pegang. Diburu begitu, aku pun bergegas mengambil jaket dan melupakan ponsel.

Aku benar-benar melupakan ponsel tersebut. Ada beberapa menit duduk di gate sampai akhirnya ada pengumuman untuk pindah gate. Saat itu baru teringat ke ponsel. Bergegas memeriksa tas dan tidak menemukan. Sampai akhirnya aku mengingat proses di pemeriksaan dan yakin bahwa telah tertinggal di sana.

Mengetahui hal tersebut, seorang ibu menawarkan ponselnya. Aku pun mencoba menghubungi, nada dering tapi tidak ada yang menjawab. Hati kecilku sebenarnya pesimis apakah bakalan ada yang mendengar kalau ponsel tersebut dihubungi. Karena aku mempunyai  kebiasaan buruk ( menurut suami) yaitu membiarkan ponsel dalam mode silent, bahkan getar pun tak ada. Sebab aku merasa sangat terganggu mendengar bunyi panggilan. Hanya cahaya ponsel yang menandakan ada panggilan.

Jujur, aku langsung lemas dan menyesali kebiasaan itu karena akan mempersulit orang menemukan ponsel tersebut.

Aku bergegas menemui teman satu rombongan dan meminjam ponsel lagi. Mencoba menghubungi kembali dan puji Tuhan, dijawab oleh petugas pemeriksaan. Mereka menyuruh mengambil sendiri. Dan itu adalah hal mustahil, mengingat jarak yang jauh dari gate ke tempat tersebut. Ditambah lagi sudah ada panggilan untuk pesawat kami.

Aku mencoba negosiasi dengan petugas tersebut supaya mereka yang mengantar dengan imbalan sepantasnya. Akan tetapi keterbatasan petugas membuat tidak memungkinkan bagi mereka untuk mengantar. Harus mengambil sendiri. Aku pun mencoba negosiasi dengan petugas di gate meminta dispensasi waktu. Tetapi sudah tidak bisa karena sudah panggilan terakhir untuk masuk ke pesawat.

Di sini aku bingung sekali, antara masuk ke pesawat atau kembali mengambil ponsel. Kalau aku kembali, otomatis aku akan tinggal. Kalau aku lanjut, ponsel akan lenyap. Itu sangat berat mengingat semua data ada di ponsel tersebut.

Aku masih mencoba bicara dengan petugas di gate dan juga petugas pemeriksaan melalui ponsel teman. Sampai akhirnya di menit terakhir, petugas pemeriksaan memberi solusi supaya aku tetap boarding dan ketika landing nanti agar membuat laporan di bagian lost and found. Petugas tersebut memastikan bahwa ponsel itu akan kembali bila aku membuat laporan nantinya.

Begitu sampai di Bandara Ngurah Rai, aku masih harus mengisi eHac manual karena data sebelumnya ada di ponsel. Tetapi ternyata mengisi eHac manual malah lebih cepat daripada mengikuti antrian memakai ponsel, karena tidak banyak yang manual.
Teman-teman masih antri, aku pun bergegas ke bagian pelaporan.

Setelah menjelaskan permasalahannya, boarding pass dan KTP difotokopi oleh petugas. kemudian mengisi satu formulir dengan mencantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Prosesnya sangat cepat. Petugas menghubungi ke Soekarno Hatta dan memastikan ponsel tersebut akan sampai di Denpasar pada penerbangan selanjutnya.

Formulir yang diisi.

Keesokan harinya, kira-kira pukul 15 WITA, kami dihubungi oleh petugas bandara  bahwa ponselnya sudah bisa diambil. Akan tetapi pada saat itu kami sedang berada di Tabanan, jauh dari bandara. Jadi aku memutuskan mengambil ponsel tersebut pada hari Jumat ketika kami akan meninggalkan Denpasar.

Hari Jumat pukul 12 WITA,  kami sudah di bandara. Ternyata untuk mengambil barang, kita tidak kembali ke tempat pelaporan semula, tetapi ke bagian perwakilan Citylink yang ada di bandara. Melapor di sana, mereka mengarahkan ke bagian barang sampai. Karena aku mengatakan tidak tahu lika likunya, mereka pun menghubungi bagian tersebut via telepon. Dipastikan barang ada namun petugas sedang keluar untuk suatu urusan. Disuruh menunggu sampai 13.30 WITA padahal kami sudah harus boarding pada jam tersebut. Akhirnya disuruh chek in duluan dan barang akan diantar ke bagian check in bagasi.

Akan tetapi begitu melapor ke sana, petugas dihubungi dan belum juga kembali. Mereka mengatakan supaya menunggu di gate saja, barang akan serah terima di sana nantinya.

Tiba di gate, aku langsung melapor ke petugas. Mereka menghubungi dan petugas tersebut belum kembali, tetapi beliau memastikan akan serah terima sebelum boarding. Sesaat sebelum jam boarding, aku kembali ke petugas dan ternyata barangnya sudah ada. Aku disuruh memastikan apakah benar, kemudian mengisi satu formulir.

Puji Tuhan, akhirnya ponsel tersebut kembali setelah perjalanan panjang kami masing-masing. Ada geli juga, selama ini kami tidak pernah terpisah , namun bisa-bisanya kali ini berpisah terentang jarak dan waktu. Akhirnya menyusul juga ke Bali tapi hanya sampai bandara, tidak ikut menemani dalam perjalanan.

Ponselnya ada dalam amplop ini.
Akhirnya, kami bersatu kembali.

Namun, ada sisi baiknya juga. Si ponsel bisa beristirahat beberapa hari tanpa terbeban dengan jari jemariku yang selalu gatal menyentuhnya, menyuruh berselancar Ke mana-mana.

Ada sisi baiknya juga untuk diriku. Dengan terpisahnya kami, aku juga seolah beristirahat dari pesan-pesan WA pribadi maupun WA grup. Cukup menghubungi rumah lewat ponsel teman, mengabarkan ponsel tercecer. Demikian juga urusan pekerjaan. Ada rasa nyaman tersendiri, bepergian tanpa ponsel.
Kalau menghubungi anak tetap bisa aku lakukan bila sudah sampai di hotel, pakai WiFi dan mengirim pesan messenger lewat Facebook yang aku download di ponsel satu lagi.

Pengalaman ini cukup memberi pelajaran bagiku. Antara lain, untuk tetap konsisten tidak membuka ponsel bila semua urusan belum selesai. Ponsel juga sebaiknya disimpan di tas, jangan asal letak di baki seperti yang aku lakukan.

Pengalaman ini juga memberi sebuah perenungan bahwa ada hal-hal yang bisa terjadi di luar kemampuan kita. Termasuk terkait kehilangan. Semua memang harus terjadi. Namun, bila memang masih menjadi rezeki kita, pasti akan kembali. Yang dilakukan cukup berdoa dan berusaha.

Jujur, aku sempat hampir panik walaupun berusaha tetap tampak tenang. Di tengah kepanikan, muncul suatu pemikiran untuk menyalahkan. Aku menyalahkan diriku yang tidak bisa menahan diri untuk tidak membuka ponsel. Sempat juga menyalahkan sikap temanku yang suka heboh sewaktu mendesak buru-buru di bagian pemeriksaan barang. Padahal seharusnya tidak perlu harus seheboh itu. Namun akhirnya, aku bisa menguasai diri, memutuskan tidak ada gunanya menyalahkan siapapun. Karena tidak akan memperbaiki keadaan.

Akhirnya, aku bisa tenang sembari menaikkan harapan dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Satu hal yang membuat teman-teman bingung. Bagaimana aku bisa sesantai itu, bahkan sempat membuat vlog lagi saat menunggu jemputan di Bandara Ngurah Rai. Aku hanya mengatakan bahwa aku harus tetap berpikir semua baik supaya hasilnya baik. Mereka pun mengatakan, apa yang baik dari sebuah kehilangan?

Puji Tuhan, semua memang baik adanya dan ponselku juga kembali dengan baik.

Gassmom, 131220

Oleh Sondang Saragih

Semua baik, apa yang Tuhan perbuat dalam hidupku.
Everymoment Thank God.

14 replies on “Ponsel Tercecer di Bandara Soekarno Hatta”

oalahhh… ponsel hilang ternyata banyak terbawa kepikiran. bukan nominalnya, tapi isinya yang begitu banyak kehidupan didalamnya. syukurlah sudah ketemu dengan jalan unik dan berliku. oh iya, kalau hatiku tercecer padamu, gimana cara ngambilnya?

Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s