Kategori
Sebuah Perjalanan

Wisata Budaya ke Tugu Toga Sinaga (Urat, Palipi, Toba Samosir)

Pada umumnya, setiap suku maupun agama memiliki sebuah tempat yang disucikan untuk menjadi tujuan ziarah, demikian juga halnya dengan etnis Batak.  Etnis Batak memiliki banyak marga dan meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari Pulau Samosir. Itulah sebabnya di Pulau Samosir banyak ditemukan tugu. Hampir setiap marga  memiliki tugu masing-masing. Dipercaya sebagai tugu leluhur dan menjadi tujuan ziarah bagi marga tersebut. Melakukan ziarah ke tugu leluhur merupakan kerinduan tersendiri bagi keturunan marga, termasuk marga Sinaga.

Hal itulah yang mendorong Punguan Marga Sinaga tempat kami terdaftar menjadi anggota melakukan ziarah dan wisata budaya ke Tugu Toga Sinaga pada bulan Juli 2019 silam. Tugu Toga Sinaga ini berada di Pulau Samosir. Tepatnya di Urat, kecamatan Palipi, Toba Samosir.

Hari yang dipilih adalah hari libur, kebetulan juga jatuh pada hari Sabtu supaya anak-anak bisa ikut.

Rombongan terdiri dari beberapa bus dan mobil pribadi. Berangkat dari Pematangsiantar direncanakan paling lambat pukul 6 pagi supaya bisa mengejar Kapal Ihan Batak yang berangkat pukul 08.30 WIB. Karena saat itu Kapal Ihan Batak masih baru dan belum banyak yang pernah menyeberang Danau Toba naik kapal tersebut, jadi banyak yang ingin merasakan bagaimana suasana di kapal Ihan Batak yang menurut banyak orang memiliki fasilitas bagus.

Tetapi ternyata, kebiasaan jam karet belum bisa dihilangkan. Apalagi untuk rombongan sebanyak kami yang terdiri dari berbagai usia. Akhirnya berangkat jam 6 hanya tinggal cerita. Hari sudah terang ketika bus melaju dari Pematangsiantar menuju Parapat.

Tiba di Ajibata sudah pukul 9 lewat. Harapan untuk naik Ihan Batak pun kandas. Bahkan untuk trip kedua pun tak terkejar lagi. Dari kejauhan kami sudah melihat Ihan Batak tetapi apa daya kuota sudah penuh, bahkan untuk masuk ke pelabuhannya pun sudah tak bisa.

Terpaksa rombongan beralih ke Pelabuhan Ferry. Dan itu bukan hal mudah, mengingat itu adalah hari libur sekaligus weekend.

Antrian panjang kendaraan menuju dermaga harus kami tempuh lebih kurang 2 jam. Membuat sebagian besar rombongan tidak ada yang betah menunggu di bus. Akhirnya kami jalan kaki menuju pelabuhan Ajibata dan menunggu antrian bus di sana. Ini adalah hal yang selalu terjadi di Pelabuhan pada hari libur. Karena wisatawan lokal pun sudah berbondong-bondong menyeberang ke Samosir, menikmati liburan. Banyak juga yang menyeberang untuk tujuan ziarah, sama seperti kami.

Karena antrian begitu lama, makan siang yang dijadwalkan dilaksanakan di lokasi ziarah terpaksa dilaksanakan di Pelabuhan Ajibata. Akhirnya makan masing-masing, di tempat yang dirasa memadai. Kami sendiri memilih makan di bus. Tetapi karena penantian yang begitu panjang, tak urung rasa bosan pun hadir apalagi aku juga membawa 3 bocah. Sempat juga kami duduk di 3 warung yang berbeda untuk sekedar pesan minum. Sampai akhirnya kami beranjak menuju pantai, menunggu kedatangan kapal Ferry selanjutnya.

Hari cerah, terik matahari membakar. Untung angin sepoi dari Danau Toba berhembus menyejukkan hati. Kami menghabiskan waktu dengan berfoto ria. Juga menyaksikan anak pantai, sebagian mencari rezeki dengan menyanyikan lagu-lagu Batak, memakai alat musik kreasi sendiri berpindah dari orang ke orang. Sebagian mencari rezeki dengan cara yang lebih menantang, memburu koin-koin Rupiah yang dilemparkan ke Danau. Mereka meminta pengunjung melemparkan koin dan mereka saling berebut, berenang dan menyelam. Hal ini mereka lakukan juga di sekitar kapal Ferry sampai kapal beranjak menjauh dari dermaga. Cukup berbahaya sebenarnya, tapi mereka juga terlihat sudah sangat terlatih melakukan itu. Juga memberi hiburan tersendiri bagi para wisatawan.

Menanti kedatangan Kapal Ferry.

Penyeberangan dengan Ferry menuju Tomok, Samosir berlangsung selama 1 jam. Dari Tomok kami naik bus lagi ke arah Pangururan. Ternyata lumayan jauh juga Tugu Toga Sinaga ini, ke Pangururan lebih kurang 2 jam dan masih dilanjutkan lagi dengan perjalanan lebih kurang 1 jam.

Kami tiba di Tugu Toga Sinaga pukul 4 sore. Bus parkir di area tugu yang memiliki lokasi lumayan luas.
Karena sudah sore, kami langsung melakukan prosesi ziarah. Kebetulan ada rombongan yang baru selesai ziarah sehingga kami bisa masuk.
Tugu Toga Sinaga ini berada di tempat yang tinggi dan menuju ke sana harus melalui banyak anak tangga, aku lupa persisnya berapa. Tetapi kalau tak salah lebih dari 150. Tetapi ternyata itu bukan penghalang bagi rombongan untuk menapaki tangga demi tangga. Termasuk para orang tua yang sudah sepuh, mereka tidak mengeluh bahkan tetap semangat walau tertatih sambil sesekali menatap ke arah tugu. Mungkin itulah wujud rasa cinta kepada leluhur.

Area parkir, tugu ada di atas.

Perjalanan panjang ditambah lagi menapak tangga, tetapi sesampai di puncak terbayar dengan suasana yang mempesona. Tugu terletak di dataran tinggi yang mana dibangun persis menghadap Danau Toba, sehingga dari atas bisa menyaksikan sisi lain keindahan Danau Toba. Seakan berada di  negeri Kayangan, menyaksikan Danau Toba yang terhampar luas. Ditambah angin sepoi yang sejuk.
Memasuki lokasi tugu harus melepaskan alas kaki. Kami pun masuk dengan tertib diiringi oleh Gondang dan seruling dari pemusik tradisional yang memang ada di sana. Hal ini menambah khusuk ziarah yang dilakukan. Biaya untuk itu adalah Rp500.000,-

Tugu Toga Sinaga
Menari diiringi musik tradisional Batak.

Kegiatan ziarah diawali dengan memberi demban (daun sirih yang telah diberi pelengkap untuk makan sirih) ke bagian depan tugu, sebagai bentuk penghormatan. Diharapkan sewaktu meletakkan demban tersebut sambil mengucapkan kata-kata, terserah apa yang penting sopan. Bagi yang masih percaya bila dapat meminta kepada leluhur, terserah bila itu yang dia ucapkan. Tidak ada keharusan, sesuai dengan kata hati atau bahkan bila hanya berbicara dalam hati juga tidak apa.

Setelah itu masuk ke ritual manortor (menari), seperti pada ritual adat lainnya. Bagaimana tradisi dari Sinaga, Sinaga ke boru, manombah dan sebagainya.
Ritual manortor diakhiri dengan menari mengelilingi tugu dengan posisi tangan manombah ( menyembah), bentuk penghormatan kepada leluhur Toga Sinaga.

Ternyata di lokasi tugu, ada juga sebuah rumah adat di sebelah kiri tugu. Di bagian belakang ada monumen silsilah Toga Sinaga dan 2 patung harimau. Boleh mengambil foto dari segala sudut yang penting ingat kesopanan.

Silsilah Toga Sinaga

Selepas acara dari tugu, kami pun turun ke bawah. Di bawah ada 2 bangunan pendopo yang lumayan sangat luas, bagus juga bersih. Biasanya ada juga yang buat acara semacamnya bila ziarah. Fasilitas toilet juga lengkap dan terjaga kebersihannya dengan air jernih dan sudah bisa dipastikan sangat dingin. Kami mengumpulkan juga dana sukarela dari setiap keluarga untuk kami berikan kepada pengelola tugu untuk menunjang fasilitas tetap terjaga baik.

Pukul 6 sore, kami pun bergerak pulang. Niat awal untuk bersantai di pantai pun pupus karena rencana tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Akan tetapi sebagian keluarga yang berangkat dengan mobil sendiri, memilih tidak pulang dan menginap di Samosir.

Kami sampai di Tomok sudah pukul 9 malam. Di Tomok, kembali harus mengikuti antrian panjang menuju dermaga. Mau tidak mau, terpaksa makan malam di Tomok. Kami memilih sebuah rumah makan non halal, karena kami lihat  yang masak Chinese dan untunglah rasanya sesuai dengan yang diharapkan.

Penantian panjang pun berlangsung menunggu kapal Ferry selanjutnya  Ada yang jalan ke pantai, sebagian belanja souvenir dari lapak-lapak yang masih buka dan  sebagian memilih untuk tidur di bus.

Ferry yang kami tunggu tiba sudah pukul 12 malam. Rata-rata kami memilih hanya berdiam diri dalam bus sepanjang Penyeberangan, tidur.

Kami tiba di Pematangsiantar sudah pukul 4 subuh. Sungguh suatu perjalanan yang memakan waktu walaupun lebih banyak mengantri daripada perjalanan inti. Suatu perjalanan yang sukar dilupakan, terlebih karena berangkat bersama keluarga. Paling tidak kami sudah bisa bercerita bahwa sudah berkesempatan ziarah ke tugu leluhur.

Tidak banyak foto yang aku ambil dalam perjalanan ini, tetapi bila ingin melihat rekaman ritual di tugu bisa membuka dalam video Wisata Budaya ke Tugu Toga Sinaga part.1 dan Prosesi Acara Wisata Budaya di Tugu Toga Sinaga part. 2.

Gassmom, 221120

Iklan

Oleh Sondang Saragih

Semua baik, apa yang Tuhan perbuat dalam hidupku.
Everymoment Thank God.

4 replies on “Wisata Budaya ke Tugu Toga Sinaga (Urat, Palipi, Toba Samosir)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s