Kategori
buku

Ayahku (Bukan) Pembohong-Review Buku

Bukankah Ayah pernah bercerita bahwa suku Penguasa Angin bisa bersabar walau Beratus tahun dizalimi musuh-musuh mereka. Suku itu paham, terkadang cara membalas terbaik justru dengan tidak membalas.

Pict. Dok. pribadi

Mempunyai ayah yang gemar bercerita pastinya memberi kebahagiaan tersendiri. Aku bisa mengatakan hal itu karena kebetulan bapak juga seorang yang gemar bercerita. Terutama tentang kisah-kisah perjalanannya yang pernah bertugas dalam sebuah lembaga pelayanan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Kisah-kisah unik yang dominan dengan masalah rakyat bawah dan pedesaan dengan latar budaya yang berbeda. Kisah demi kisah yang selalu  kudengar dengan seksama walaupun sudah berulangkali diceritakan. Persis seperti tokoh si aku yang bernama Dam dalam buku Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye ini.

Bahkan kisah biasa pun membuatku selalu kagum akan bapak. Apalagi kalau kisah itu adalah kisah luar biasa seperti yang diceritakan oleh ayah dalam buku ini. Kisah yang berhubungan dengan tokoh terkenal, juga kisah petualangan hebat. Kisah yang bahkan memberikan motivasi luar biasa bagi Dam. Dan hebatnya, menanamkan budi pekerti yang tidak dimiliki orang lain. Semua karena cerita demi cerita yang selalu dituturkan si ayah. Walaupun kisah itu terkesan tidak masuk akal namun Dam sangat percaya dengan semua cerita ayah. “Ayahku bukan pembohong. Seluruh kota tahu ayahku jujur dan sederhana,” itulah jawabannya ketika ada teman yang meragukan cerita si ayah.

Awalnya aku mengira buku ini cerita anak karena kebetulan aku baru menuntaskan Pukat (serial Anak-anak Mamak). Tetapi ternyata sama sekali bukan. Walaupun setengah dari cerita adalah kisah masa kecil Dam sampai dewasa yang ditulis sebagai flashback dari kehidupan masa sekarang yang sudah menjadi seorang ayah dari 2 orang anak laki-laki.

Cerita dikemas dengan alur maju mundur. Dam yang sudah menjadi orangtua mendapat kenyataan bahwa kedua anaknya juga tergila-gila dengan cerita kakek mereka. Sesuatu yang terjadi di masa lalu membuat Dam tidak suka dengan kenyataan bahwa anaknya juga mengagumi cerita yang pernah dia dengar bahkan dulu selalu dia percaya. Dahulu, Dam memang sangat percaya dengan segala kisah itu. Namun sejak ibunya meninggal, dia berhenti percaya dan menganggap semua itu bohong dan hanya karangan. Dam tidak ingin kedua anaknya terjebak dalam kebohongan yang sama.

Walaupun buku ini bukan buku untuk anak, seperti yang aku tuliskan di atas tadi. Tapi menurutku buku ini cocok juga dibaca oleh anak dan cocok juga dibaca orangtua. Karena banyak pesan moral yang terkandung dalam buku ini. Bagaimana seharusnya bersikap dalam menjalani kehidupan. Kisah yang mengajarkan bagaimana cara mendidik anak melalui cerita tentang budi pekerti juga motivasi. Buku ini juga menyelipkan pesan moral bagaimana hubungan anak dan orangtua, demikian juga sebaliknya. Bagaimana seharusnya bersikap sebagai orangtua, sebagai suami, sebagai istri dan sebagai anak bahkan sebagai bagian dari masyarakat.

Kisah masa lalu Dam sewaktu kanak-kanak, remaja bahkan sudah dewasa sebelum menikah pun, cukup seru untuk dibaca. Buku bagus dengan cara berkisah yang bagus. Sepertinya aku semakin menyukai buku-buku karangan Tere Liye. Sejauh ini sudah beberapa yang aku baca, semuanya mengasyikkan dan selalu menyelipkan pesan-pesan moral.

Ada beberapa kutipan yang sayang kalau tidak dicatat karena memiliki pesan moral tersendiri. Kutipan yang layak untuk direnungkan karena bercerita tentang kesabaran dan hakikat kebahagiaan dalam hidup yang berusaha ditanamkan oleh ayah kepada Dam. Kutipan tersebut antara lain:

  1. Bukankah Ayah pernah bercerita bahwa suku Penguasa Angin bisa bersabar walau Beratus tahun dizalimi musuh-musuh mereka. Suku itu paham, terkadang cara membalas terbaik justru dengan tidak membalas. (hal. 24)
  2. “Ah, yang menghina belum tentu lebih mulia dibandingkan yang dihina. Bukankah Ayah sudah berkali-kali bilang, bahkan kebanyakan orang justru menghina diri mereka sendiri dengan menghina orang lain.” (hal. 38)
  3. … Penjajah itu tidak tahu kekuatan bersabar. Kekuatan ini bahkan lebih besar dibandingkan peledak berhulu nuklir. Alam semesta selalu bersama orang-orang yang sabar. (hal. 69)
  4. Alim Khan menjelaskan pemahaman hidup yang sederhana, kerja keras, selalu pandai bersyukur, saling membantu.(hal. 140)
  5. “Seharusnya kau bisa mengabaikan mereka, Dam. Seharusnya kau bisa bersabar, bisa menerima olok-olok dengan ringan hati. Toh itu hanya olok-olok, tidak lebih tidak kurang.” (hal. 149)
  6. “Mereka bukan suku pengecut , Dam. Mereka tidak takut mati demi membela kehormatan, tetapi buat apa? Suku Penguasa Angin terlalu bijak untuk melawan kekerasan dengan kekerasan. Membalas penghinaan dengan penghinaan. Apa bedanya kau dengan penjajah, jika sama-sama saling menzalimi, saling merendahkan. Leluhur Tutekong memutuskan akan menjaga kebijakan hidup mereka selama mungkin. Mendidik anak-anak mereka untuk mencintai alam, hidup bersahaja, dan membenci ladang-ladang tembakau itu. Rasa benci yang tidak harus berubah menjadi perlawanan. Rasa benci yang justru menjadi semangat, menjadi keyakinan bahwa mereka akan bertahan lebih lama dibandingkan keserakahan penjajah. Kau ingat itu, Dam, keyakinan bahwa suku mereka akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan rasa tamak dan bengis” (hal. 157)
  7. “Kekuasaan itu cenderung jahat dan kekuasaan yang terlalu lama cenderung lebih jahat lagi. Semua orang cenderung pembantah, bahkan untuk sebuah kritikan yang positif, apalagi sebuah tuduhan serius berimplikasi hukum, lebih keras lagi bantahannya. Bangsa yang korup bukan karena pendidikan formal anak-anaknya rendah, tetapi karena pendidikan moralnya tertinggal, dan tidak ada yang lebih merusak dibandingkan anak pintar yang tumbuh jahat. Orang-orang dewasa yang jahat sulit diperbaiki meski dihukum seratus tahun, jadi berharaplah dari generasi berikutnya perbaikan akan datang. Istri, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya bisa menjadi penyebab sebuah kejahatan, dan sebaliknya juga bisa menjadi motivasi besar kebaikan …” (hal. 185)
  8. Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua Itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.” ( hal. 292)
  9. Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di daerah hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang untuk kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang. ( hal. 292)
  10. Ayah tidak menjadi hakim agung. Ayah memilih jalan hidup sederhana. Berprasangka baik kepada semua orang, berbuat baik bahkan kepada orang yang baru dikenal, menghargai orang lain, kehidupan, dan alam sekitar…” (hal. 294)

Judul Buku : Ayahku(Bukan) Pembohong
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan kesembilan belas, Maret 2017
Jumlah Halaman : 304 halaman

Gassmom, 091020

Iklan

Oleh Sondang Saragih

Semua baik, apa yang Tuhan perbuat dalam hidupku.
Everymoment Thank God.

14 replies on “Ayahku (Bukan) Pembohong-Review Buku”

Pengen baca, tapi namanya masih belum bisa mengumpulkan pundi” sendiri, akhirnya milih ngantri di ipusnas. Eh, lama bgt antriannyaπŸ™πŸ™

Disukai oleh 1 orang

suka reviewnya Mbak Sondang 😍
Jadi kangen buku ini, seingat saya sampai menitikkan air mata baca buku ini πŸ˜‚
Semoga Mbak Sondang makin suka dengan buku-buku karya penulis buku ini πŸ˜ƒ

Oh iya, saya sempet salfok sama aglonema, ya Mbak? πŸ˜€

Disukai oleh 1 orang

Waaah makasi Mom udh review buku ini, jadi ingat pernh baca buku ini 3/4 tahun yg laluu, buku itu pnya kakak ku (laki2) awalny entah kenapa kkaku beli buku ini hhe, aku pikir pun ini cerita anak2, ehh ternyata banyak pesan moral hidup & bijak dalam hidup . Tapi entah kenapa kalo gk salah sempat menitikan air mata selesai baca ini (–“)a huhu

Disukai oleh 1 orang

Payah cakap ya, karena sepertinya real sudah terjadi.
Membaca kutipan itu, baru aku menyadari bahwa sebenarnya Tere Liye ini juga menyuarakan protes ketidaksetujuan untuk hal yang terjadi tapi dengan sesuatu yang positif. Menuangkan dalam kisah menarik dan berharap yang membaca bisa mengambil hikmah dari bukunya.

Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s