BPJS

” Yang pasti BPJS sangat membantu. Saya sudah merasakan bagaimana BPJS sangat membantu ketika sedang sakit.” Ujar seorang ibu.

“Saya sangat berterima kasih dengan adanya BPJS ini.” Ibu tersebut pun melanjutkan ucapannya. “Makanya kalau ada yang belum punya, selalu saya sarankan untuk mendaftar. Hitung-hitung untuk jaga-jaga lho, karena kita tidak tahu bagaimana kita besok. Kalau tidak terpakai ya bersyukur karena itu artinya kita tidak sakit. Dan kita sudah menolong orang lain dengan iuran kita. Tapi kita harus rutin membayar. Anak saya yang sudah meninggal pun sampai saat ini tetap saya bayar iuran BPJSnya.”

Lho, kenapa masih dibayar Bu? Laporkan saja ke kantor BPJS dan bawa surat kematian supaya dikeluarkan dari daftar keluarga.” ujar seorang ibu.

“Nggak apa-apa Dek. Memang sengaja tetap saya bayar. Sudah saya niatkan kalau itu untuk membantu orang yang membutuhkan.” Jawab ibu tersebut.

“Membantu orang secara langsung sajalah Bu. Berikan kepada orang yang ada di sekitar kita yang kita lihat membutuhkan.” Ujar ibu yang lain.

“Bisa saja sih, tapi saya sudah memutuskan memilih cara tetap membayar lewat nama anak saya itu. Karena kalau uang itu ada secara tunai, belum tentu bisa saya serahkan kepada yang membutuhkan setiap bulan. Dan rasanya juga terlalu sedikit bila memberi langsung dengan jumlah itu. Jadi biarlah tetap saya bayar rutin setiap bulan.” Jawab ibu itu lagi.

Terus terang salut juga melihat si ibu dengan pilihan yang dia buat.

Dan aku juga memiliki prinsip yang sama dengan ibu tersebut. Aku sendiri sudah sekian tahun membayarkan BPJS untuk kedua orangtua kami yang di kampung. Rutin setiap bulan sebelum tanggal 10. Sebenarnya mereka menolak karena tidak ingin menambah bebanku. Tetapi aku sudah memutuskan bahwa aku harus melakukan itu. Aku memikirkan hal terburuk, seandainya di hari tua mereka mengalami sakit dan terpaksa opname, aku bukanlah orang yang berkecukupan yang mempunyai simpanan banyak untuk membantu mereka. Penghasilan yang aku peroleh hanya mencukupi kebutuhan sebulan. Tetapi bila kartu itu ada, bagaimanapun aku akan sangat terbantu karena paling tidak mempunyai akses untuk pertolongan pertama.

Sekian lama aku masukkan BPJS, hanya mama yang sudah pernah mempergunakannya untuk operasi Katarak.

Banyak memang yang berpendapat bahwa alangkah ruginya ketika kita rutin membayar setiap bulan tetapi tidak pernah memakai. Tapi aku malah berpikir sebaliknya, bagiku lebih bagus aku membayar setiap bulan tetapi tidak pernah sekalipun mempergunakannya. Karena itu artinya semua sehat-sehat saja dan artinya kita sudah membantu orang lain dengan iuran kita. Harapanku kalau bisa sampai kapanpun BPJS itu tidak usah dipakai oleh kedua orangtuaku, walaupun aku terus dan terus membayar untuk mereka.

Kemarin, mama menelepon dan memberitahu tentang perubahan pembayaran BPJS yang mana akan naik 100 %. Mereka bilang supaya aku menghentikan saja BPJS mereka atau paling tidak menurunkan kelas. Ketika aku mengatakan tetap meneruskan, mereka pun mendesak supaya aku menurunkan kelas saja. Akhirnya karena mereka terus mendesak maka aku pun mengiyakan. Namun aku memutuskan tidak mengubah. Biarlah, berbohong sedikit tapi untuk kebaikan. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mereka, sumbangsih sebagai anak.

Pict. Pint

Gassmom-
Pematangsiantar, 221119

5 respons untuk ‘BPJS

  1. Luar biasa, Ito. Sungguh mulai hatimu. Di saat banyak orang memandang BPJS dan pemerontah sebagai hal buruk.

    Memang, kekurangan itu pasti ada. Smg terus ada pembenahan sehingga semua rakyat ikut merasakan manfaatnya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke masHP Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s