(Review Buku) : Daisyflo

Buku ke 4 yang kubaca tahun ini dalam resolusi 2019 membaca lagi. Dibeli secara tak sengaja dari sebuah toko buku yang sedang open sale karena mau tutup. Sebenarnya banyak buku lain yang aku inginkan tapi aku kalah cepat dari orang lain karena kebetulan sang owner sering upload pada saat jam kerja.

Daisyflo bercerita tentang seorang gadis bernama Tara yang mengalami guncangan jiwa akibat masa lalu dengan kekasihnya bernama Tora. Kekasih yang telah memperkosa dirinya dan kemudian memperlakukan dengan posesif dan semena-mena dengan satu janji bahwa akan bertanggungjawab dan menanamkan dalam benak Tara bahwa tidak akan pernah ada lelaki lain yang akan menerima Tara dengan kondisi sudah tidak perawan.

Daisyflo diawali dengan cerita Tara yang berniat membunuh Tora dengan persiapan yang sudah matang tetapi rencana tersebut digagalkan oleh Alexander yang muncul menabrak Tora dan kemudian menyuruh Tara pergi dari lokasi tersebut. Akhirnya Tora koma dan Alexander ditahan polisi.

Dari cerita tersebut bergulir cerita yang dikemas dengan alur campuran. Cerita bagaimana awal Tara menjalin asmara dengan Tora. Cerita tentang Junot yang menghias hati dan kehidupan Tara di tengah derita yang Tara dapatkan dari Tora. Cerita tentang konflik dalam hubungan Tara dan Tora juga Junot. Cerita tentang Muli yang terabaikan dan menunggu saat yang tepat untuk memiliki Junot. Ibarat sebuah puzzle yang harus disusun, cerita demi cerita bergulir ibarat flashback dari situasi yang sedang rumit karena Tora sedang koma dan Alexander juga ditahan.

Cerita berakhir dengan happy ending, Tara sudah mampu melepaskan pengampunan untuk Tora setelah sekian lama hanya bergumul dengan frustasi dan dendam. Tora yang ternyata selama ini juga sudah menelan karma atas segala perbuatannya akhirnya mendapat kesempatan untuk membuka lembaran baru. Tara yang masih mencintai Junot menemukan bahwa sebagian hatinya sudah mengagumi Alexander yang juga mencintai Tara dan rela berkorban untuk Tara.
Cerita ditutup dengan situasi Tara harus memilih antara Junot dan Alexander.

Sebagaimana setiap buku pasti meninggalkan kesan tersendiri bagi pembacanya. Menurutku buku ini walaupun menyajikan sebuah keruwetan kisah tapi cukup asyik juga.

Yang paling kusuka dari buku ini adalah beberapa perkataan dari Alexander untuk Tara untuk mengubah kembali dunia Tara yang sedang frustasi.

Tidak ada yang sempurna dalam perjalanan hidup seorang manusia.” Alex membuka kata. “Itulah warna.” (Hal. 208)

Masa lalu adalah masa lalu. Mengapa kamu harus memikulnya hingga hari ini?!” (Hal. 208)

Setiap manusia berdosa. Tapi mereka bisa memohon pengampunan, bertobat, tetap hidup dan bersinar dengan caranya sendiri.” (Hal. 210)

Kamu tidak berdaya memperbaiki masa lalu, tetapi kamu berdaya memperbaiki hari ini dan hari-hari selanjutnya. Harapan selalu ada! Kamu pasti bisa!” (Hal. 210)

Juga kata-kata bijak dari konselor lain walaupun semuanya tiada arti karena Tara belum bisa membuka hati untuk mengampuni masa lalunya.

Ada kalanya kita harus mengurai benang kusut agar tahu di mana ujung pangkal luka yang menggelayuti, baru bisa menyelesaikannya. Berdoa dan meminta kepada Tuhan. Berserah…” (Hal. 189)

Memaafkan adalah hal termulia yang dilakukan manusia. Belajarlah memaafkan musuh-musuhmu maka hatimu akan lebih lapang.” (Hal. 189)

Konflik memang terbaca jelas dalam buku ini namun kisah kasih antara Junot dan Tara juga sangat menarik. Bagaimana Junot menggambarkan Tara sebagai peri yang bermahkotakan bunga Daisy yang sedang memetik kuntum demi kuntum Daisy.

“Dari dulu sampai sekarang kamu adalah peri. No matter what you are.” (Hal. 131)

Junot yang menerima Tara dengan segala kekurangannya.

Seburuk apa pun masa lalumu, itu tidak penting buatku.” (Hal. 151)

Ketika akhirnya Tara harus memilih, Tara meneguhkan hati karena cinta tidak pernah salah.

Novel yang cukup mengaduk emosi dan membuat penasaran. Walaupun pada akhirnya kita mengetahui setiap alasan kenapa benang kusut dalam cerita sampai terjadi. Selalu ada alasan dalam setiap perbuatan yang bila kita melihat dari satu sudut pandang kita bisa memberi penilaian yang salah.

Menurutku walaupun novel ini sarat konflik tetapi cukup asyik untuk dibaca karena penulisannya begitu ringan dan tidak bertele-tele. Pesan moral juga banyak tersirat dan dikemas secara tidak membosankan.

Judul Buku : Daisyflo
Penulis : Yennie Hardiwidjaja
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan 1, 2012
Jumlah Halaman : 256 halaman

Gassmom-
Pematangsiantar, 020419

Iklan

2 pemikiran pada “(Review Buku) : Daisyflo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s