2019 Membaca Lagi

‘2019 membaca lagi’

Lucu ya judulnya?
Jadi selama ini tidak membaca?

Tapi memang benar, sudah beberapa tahun belakangan ini aku tidak pernah lagi membaca yang namanya buku. Yah, sejak semua akses bisa ditemukan dari genggaman alias gadget, akupun terpaku hanya pada benda itu dan melupakan cinta lamaku yaitu buku.

Padahal kalau mengingat dahulu, rasanya aku tak bisa berpisah dari buku. Tidur dengan buku, makan dengan buku bahkan ke kamar mandi juga bersama buku, pokoknya buku is my soulmate ha ha ha …

Cerita ini berawal dari saat aku membaca beberapa tulisan yang membuat pencapaian target membaca tahun lalu dan berapa target membaca dalam tahun ini. Suatu hasrat dalam diri ini pun seolah menggeliat kembali. Mengusik, bangkit dan ingin pelampiasan.

Pertama kali yang kulakukan adalah mengintip koleksi buku yang sudah lama terlupakan. Saking tak pernah diperhatikan, tampilannya pun kacau balau. Banyak buku sudah tidak ada karena diambil oleh anakku dan tidak dikembalikan. Benar-benar kacau karena mereka juga asal ambil saja tak pernah menyusun kembali.

Sebagian koleksi buku jadul yang sudah kacau balau
Sebagian koleksi buku jadul yang sudah kacau balau

Lama kupandang buku-buku yang dahulu pernah menjadi kekasih hatiku itu. Sesekali kuambil satu buku dan buka lembaran demi lembaran. Tetapi sepertinya untuk membaca ulang mereka, aku tidak tertarik lagi.

Hmmm, jadi gimana dong dengan keinginan untuk membaca lagi?

Akhirnya kuputuskan aku harus tetap membaca. Dan harus buku baru karena aku tak ingin lagi membaca apa yang telah pernah kubaca. Mengenai buku apa yang ingin kubaca, aku belum bisa memutuskan. Kalau soal itu biarlah waktu yang akan menjawab. Yang penting aku mengumpulkan niat dahulu untuk membaca kembali pada tahun 2019.

Sampai pada hari Minggu kemarin sepulang ibadah, langkah kaki membawaku ke sebuah toko buku. Aku berjalan ke counter novel. Cukup lama aku di situ melihat judul demi judul dan terkadang membaca sinopsis di sampul belakang.

Benar-benar pilihan yang sulit. Sulit, karena faktor pendukung alias bujet juga kurang mendukung. Yah, tahu sendirilah … sebagai emak-emak dengan 4 anak, aku harus bisa super irit dan mengutamakan kepentingan anak di atas kepentingan pribadi.

Jadi aku harus benar-benar selektif dalam memilih.

Akhirnya aku tiba di satu rak dimana novel karangan penulis Indonesia yang sudah ternama berada disana seperti Andrea Hirata, Raditya Dika, Tere Liye, Asma Nadia dan Pidi Baiq.

Akhirnya aku putuskan mengambil satu Novel karangan Pidi Baiq, serial dari Dilan yaitu ‘Suara Dari Dilan‘.

'Suara Dari Dilan'
‘Suara Dari Dilan’

What, Dilan?
Ya, Dilan. Siapa yang tak kenal Dilan ya?

Dan kali ini aku memilih membaca novel ini saja untuk mengawali aktivitas membaca ala diriku tahun 2019.

Alasannya, aku masih harus memupuk ulang minat yang sempat layu bahkan nyaris mati jadi butuh sesuatu yang ringan dan enak, tidak ribet dan bisa menghibur.

Menurutku ini pilihan yang tepat saat ini. Apalagi mengingat Februari nanti Film Dilan 1991 juga akan mulai tayang. Jadi cocoklah … ha ha ha, apa hubungannya ya?

Ini ceritaku tentang memulai membaca kembali. Semoga semakin tumbuh subur jangan layu sebelum berkembang. Siapa tahu dengan mulai membaca (lagi) aku juga jadi punya bahan untuk ditulis di blog yang tak seberapa ini. Jangan tulisan curhat dan curhat ala emak-emak melulu.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 290119

Iklan

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s