Hantunya Aku (cerita mini)

Aku benar-benar kaget bercampur panik. Tadi jelas aku meninggalkan 2 jarum dan menusukkan jarum tersebut ke kain aida yang sedang kusulam. Namun begitu kembali dari dapur kedua jarum itu sudah lenyap.

Bukan apa-apa, bukan karena merasa sayang kehilangan jarum yang membuat pekerjaanku menjadi tertunda. Yang membuatku panik adalah membayangkan apa yang akan terjadi bila ternyata jarum itu berada di tempat yang salah. Misalnya berada di sofa dan salah seorang anak duduk disana dan … waduh, pokoknya bayangan buruk seketika berkelebat di pikiran dan menambah kadar kepanikan.

Akupun mencoba bertanya kepada Sachio si bocah 5 tahun dan Sean yang berusia 3 tahun yang sedang asyik bermain tak jauh dari tempat aku meninggalkan sulaman tadi. Tapi mereka berdua kompak mengatakan tidak tahu.

Akhirnya kucoba mencari lagi dan akhirnya ketemu dalam box tempat benang dan berada di bagian bawah.

Lega karena sudah menemukan jarum yang hilang tersebut, akupun melanjutkan lagi menyulam.

Sambil asyik menusukkan jarum, aku berkata kepada kedua anak tersebut, ” Jarumnya sudah ketemu. Tapi Mama heran memikirkan siapa yang sudah memegang sulaman Mama dan mengutak-atik jarum itu. Karena kalian bilang bukan kalian, jadi Mama rasa hantu yang sudah memegang ini tadi.”

“Hantu Ma?” tanya Sean.

“Iya, hantu. Siapa lagi kalau bukan hantu. Kalian bilang tak ada pegang, berarti hantu itu.” jawabku lagi.

“Hantu? ” tanya Sachio sambil menatapku.

“Iya, hantu.” jawabku lagi dengan serius.

“Hiii, takutlah Ma.” ujar Sachio sambil mendekat.

“Jangan takut Bang. Masak Abang takut sama hantu.” tukas Sean sambil tetap asyik dengan mainannya.

“Hantunya itu aku.”sambung Sean lagi dengan wajah polos tak berdosa.

“Karena, yang ambil jarum itu Sean.” sambungnya lagi sambil tertawa ngakak dibuat-buat seperti biasa kalau sudah ketahuan bersalah.

“Hmmm, berarti Sean yang pegang barang Mama. Kenapa tadi bilang tak tahu?” tanyaku nyaris marah.

“Iyalah.” seperti biasa kalau sudah tak bisa berkelit Sean hanya menjawab singkat sambil tak berpaling dari mainannya.

Dan, tinggal si mama yang terdiam dan tak tahu lagi mau ngomong apa. Mau marah juga percuma bahkan hanya membuat lelah tak berarti.

-Gassmom-
Pematangsiantar, 120119

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s